Oleh Sipri Seko
Kera Putih di Puncak Nausus
DOKTOR Dikdik Jafar, M.Pd, Dosen FPOK UPI Bandung, yang juga adalah Sport Direktor SEA Games KONI/KOI, tak ingin melepaskan momen langka di depan matanya. Kameranya terus diarahkan ke puncak Fatu (Batu) Nausus di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, akhir Desember 2010 lalu.
DOKTOR Dikdik Jafar, M.Pd, Dosen FPOK UPI Bandung, yang juga adalah Sport Direktor SEA Games KONI/KOI, tak ingin melepaskan momen langka di depan matanya. Kameranya terus diarahkan ke puncak Fatu (Batu) Nausus di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, akhir Desember 2010 lalu.
Dia ingin merekam secara utuh tiga ekor kera putih yang tiba- tiba muncul di puncak Fatu Nausus. Meski tampak begitu kecil di puncak batu marmer setinggi lebih dari 100 meter tersebut, namun saya dan beberapa anggota rombongan, Ary Moelyadi (Kabid Keolahragaan Dinas PPO NTT), George Mella (Ketua Umum PASI TTS), Ferry Meko (Ketua Harian PASI TTS), para pelatih dan atlet atletik tertegun melihat fenomena itu.
"Kera putih ini tidak sembarang keluar. Hanya orang yang beruntung saja yang bisa melihat kera putih ini. Menurut kepercayaan di sini kalau kera putih muncul itu pertanda baik. Mungkin orang yang melihatnya akan mendapat rezeki dan lainnya," ujar seorang pemuda asal daerah itu, Buce Oematan.
Kera putih di atas Fatu Nausus menyimpan banyak cerita di daerah tersebut. Ada yang menyebut mereka sebagai jelmaan nenek moyang yang muncul bila ada tamu datang. Ada juga yang menyebut mereka sebagai penjaga alam, dan beragam cerita mistis lainnya. Kera putih juga diceritakan akan murka bila Fatu Nausus ditambang menjadi marmer.
Ada benarnya. Sebuah perusahaan penambangan dari luar NTT yang beberapa waktu lalu hendak menambang batu tersebut terpaksa harus menghentikan aktivitasnya. Hujan angin dan badai tiba-tiba datang bila mereka memaksa untuk melakukan penambangan.
Fatu Nausus dan batu-batu lainnya yang ada di daerah tersebut sejak dahulu oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat tinggal nenek moyangnya. Di situ juga merupakan tempat bagi beberapa marga seperti Lassa, Banoet, Seko, Sunbanu, Tafui, Toto, Tanesib, Bnani dan lainnya menyimpan harta kekayaannya. Kepercayaan itu terus dipegang hingga saat ini. Masyarakat setempat masih yakin kalau harta benda nenek moyang mereka masih tersimpan aman di Fatu Nausus.
Indahnya panorama dan kekayaan alam di tempat kelahiran orangtua saya tersebut memunculkan beragam tanya dalam benak. Sulit untuk diungkapkan, namun terus berkecamuk. Kekayaan alam berupa batu marmer membuat masyarakat terpecah. Ada yang pro penambangan, namun ada yang menolaknya. "Masyarakat butuh perubahan, jadi kekayaan alam yang ada harus dieksploitasi." Namun ada yang bilang, "Ingat, alam untuk masa depan anak cucu."
Hati terasa pedih! Sebuah batu yang jaraknya tak lebih dari 100 meter dari areal pekuburan nenek moyang saya di Desa Tunua kini sudah rata dengan tanah. Keinginan melihat kera-kera bergantungan di dinding-dinding baru seperti masa kecil dulu tak kesampaian lagi. Mungkinkah ini terus berlanjut hingga ada kera putih yang muncul kemudian murka mengutuk mereka yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya?
Saya sedikit terhibur ketika Dr. Dikdik merekomendasikan daerah Fautkolen sangat cocok sebagai lokasi pemusatan latihan cabang atletik. "Daerah ini sangat cocok untuk pemusatan latihan. Suhunya lebih bagus dari Pangalengan, Jawa Barat," ujarnya.
Kampungku! Haruskah kera putih muncul lagi agar kamu diberkati? *