A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Industri Garam di NTT Menantang Keseriusan Pemerintah - Pos Kupang
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Pos Kupang

Industri Garam di NTT Menantang Keseriusan Pemerintah

Jumat, 11 Februari 2011 11:34 WITA

Oleh Oby Lewanmeru

DALAM beberapa hari terakhir, kita membaca dan mendengar rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan usaha garam di sejumlah kabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Rencana ini menindaklanjuti program pemerintah pusat untuk pengembangan usaha garam guna memenuhi kebutuhan garam nasional.

Luasnya laut di Indonesia tidak menjamin produksi garam atau ketersediaan garam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi regional dan nasional. Hal ini karena usaha garam didominasi oleh usaha berskala kecil dan untuk konsumsi. Sedangkan untuk industri belum bisa memenuhi kebutuhan garam nasional.

Sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor garam sebanyak 1,6 juta ton untuk menutupi kekurangan kebutuhan garam dalam negeri. Produksi garam nasional saat ini hanya sekitar 1 juta ton/tahun. Sementara kebutuhan garam nasional dalam satu tahun mencapai 2,6 juta ton.

Untuk merealisasikan program garam nasional, pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyediakan dana senilai Rp 90 miliar dalam tahun 2011 ini. Anggaran sebesar itu untuk pengembangan usaha garam konsumsi dan garam industri di 40 kabupaten/kota di 10 propinsi di Indonesia, termasuk NTT.

Bagaimana upaya mengatasi kekurangan atau kebutuhan garam di tanah air? Apa terobosan yang harus dilakukan pemerintah sehingga impor garam bisa ditekan?

Pertanyaan ini rasanya mulai mengiang di telinga masyarakat Indonesia. Lebih lagi ketika pemerintah pusat fokus untuk mengembangkan garam di NTT. Pemerintah pusat ingin menjadikan NTT sebagai penghasil garam nasional.

Perhatian pemerintah pusat ini jangan sampai bertepuk sebelah tangan, tanpa dukungan pemerintah daerah. Jangan sampai masyarakat di wilayah pengembangan garam sama sekali tidak menggubris program pemerintah tersebut.

Sebenarnya garam di NTT sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu, mengingat luas lautan dan areal tambak milik petani di sangat potensial menghasilkan garam.

Pemerintah pusat memang mulai mencari sentra produksi garam atau daerah-daerah pengelolaan garam yang baru. Pemerintah kini tentu melirik NTT, selain Madura.

Bukan iming-iming jika mimpi besar untuk menjadikan NTT sebagai salah satu daerah produksi garam nasional. Karena itu, dibutuhkan komitmen semua pihak, terutama pemerintah daerah.

Penetapan NTT sebagai salah satu lumbung garam tahun 2011 diharapkan bisa menjawab kebutuhan garam nasional. Tentu pertumbuhan garam-garam lokal bisa mencapai 200.000- 300.000 ton/tahun.

Di sisi lain kita masih menemui sejumlah kendala, antara lain minimnya investasi di wilayah NTT karena status lahan yang tidak jelas, sudah bukan rahasia lagi. Ada begitu banyak potensi yang dilirik investor luar, namun mereka terkendala masalah lahan. Karena itu, dibutuhkan komitmen dan dukungan riil dari pemerintah daerah untuk pengembangan investasi di daerah ini.

Potensi garam di NTT tidak disangkal lagi bila dinyatakan lebih bagus dari garam yang dihasilkan petani garam di Pulau Jawa. Selain karena kadar garamnya berkualitas, perairan NTT masih bebas dari unsur logam berat. Karena itu, banyak pengusaha dalam dan luar negeri mulai melirik NTT sebagai daerah produksi garam yang baru.

Beberapa daerah yang berpotensi untuk pengembangan garam yakni Kabupaten Nagekeo, Ende dan Kupang.

Saat bersama tim kesejahteraan sosial berdialog dengan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan jajarannya, Rabu (26/1/2011), Drs. Sudarto dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan mengatakan, NTT memiliki potensi garam yang hampir sama dengan Australia. Karena itu, sukses tidaknya swasembada garam nasional tergantung NTT. Saat ini hanya NTT yang memiliki potensi garam yang mampu memenuhi kebutuhan garam beryodium untuk kesehatan dan garam industri.

Pemerintah Kabupaten Nagekeo pun telah menandatangani MoU (memorandum of understanding) dengan Chief Executive Officer (CEO) PT Cheetham Salt Ltd asal Australia di Kementerian Perindustrian Jakarta dalam mengembangkan garam di daerah itu.

Sementara itu, lahan garam di Teluk Kupang yang sempat dikelola oleh PT Guna Ganda Semesta sejak tahun 1984 lalu kini mandek akibat adanya masalah internal.

"Dari sekitar 5.000 hektare lahan garam di Teluk Kupang, sekitar 3.700 hektare dikelola oleh perusahaan tersebut. Sisanya dikelola masyarakat secara swadaya. Sampai sekarang perusahaan itu tidak menunjukkan aktivitasnya karena masalah internal dan diharapkan bisa diselesaikan pula," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Ir. Eddy H Ismail, M.M.

Mau ke Mana?
Sejumlah pemasak garam di Desa Oebelo dan Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, meminta kepada pemerintah untuk tidak mengabaikan pekerjaan utama mereka sebagai pemasak dan pengusaha garam.

"Kami minta jangan mengabaikan kami jika ingin membangun industri di daerah NTT. Perlu kajian supaya usaha kami tidak mati atau hilang, karena ini satu-satunya mata pencaharian kami. Jika pemerintah tidak perhatikan ini, lalu kami mau ke mana?" kata Thomson Giri dan Anderias Sely.

Menurut  Giri dan Sely,  upaya pemerintah pusat dan pemerintah daerah NTT membangun pabrik garam industri di NTT sangat baik, namun dikhawatirkan justru mengancam usaha mereka dalam memproduksi garam yang selama ini masih berskala kecil dan tradisional.

"Kami minta supaya kaji lagi karena kalau ada pabrik, maka garam itu langsung diolah oleh pabrik. Sedangkan kami yang selama ini memasak garam pasti terancam karena semua garam pasti dari pabrik," keluh Giri dan Sely.

Giri yang bekerja sebagai pemasak dan penjual garam mengatakan, dirinya selalu memasak garam 2 ton/minggu. Karena itu, industri garam perlu memperhatikan mata pencaharian mereka.

Yakoba Bulan mengatakan, dirinya hanya sebagai penjual garam dan tidak mengetahui rencana pemerintah untuk mengembangkan garam di NTT menjadi daerah industri.

Sebanyak 13 kabupaten/kota di NTT merupakan daerah berpotensi garam. Potensi ini sebagian besar masih dikelola secara tradisional.

Daerah-daerah ini merupakan hasil pemetaan pemerintah NTT, meski umumnya masih dikelola secara tradisional dan untuk konsumsi masyarakat.*

Daerah Potensi Garam di NTT

Kabupaten Kupang  4.660 ha
Nagekeo  2.500 ha
Ende  500 ha
TTU  500 ha
Lembata  135 ha
Sumba Tengah  10 ha
Sumba Barat Daya  12 ha
Sumba Timur  45 ha
Rote Ndao  39 ha
Alor  30 ha
TTS  50 ha
Belu  20 ha
Kota Kupang  4 ha
-------------------
Sumber: Dinas Perindag NTT

 

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
57972 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas