Rabu, 10 Juni 2026

Oleh Gerardus Manyella

Jung Golot

DI saat derasnya modernisasi dan globalisasi yang cenderung membawa manusia memunculkan egonya, mementingkan diri sendiri, sebagian masyarakat wilayah timur Kabupaten Sikka masih memelihara budaya kebersamaan, melestarikan suasana kekeluargaan dengan budaya jung golot.

Tayang:

DI saat derasnya modernisasi dan globalisasi yang cenderung membawa manusia memunculkan egonya, mementingkan diri sendiri, sebagian masyarakat wilayah timur Kabupaten Sikka masih memelihara budaya kebersamaan, melestarikan suasana kekeluargaan dengan budaya jung golot.

Jung golot  ini mulai tampak saat persiapan musim tanam Agustus-Januari. Jung Golot lahir karena terdorong rasa saling membutuhkan, saling topang menopang.

Jung Golot yang dahulu kala hanya untuk menyiapkan lahan, sekarang bergeser ke pembangunan rumah, mengerjakan rabat jalan, bak air dan pekerjaan berat lainnya.

Salah satu contoh kelompok Jung Golot 'Tuke  Ler" di Woloklereng. Kelompok yang beranggotakan 20 orang ini secara bergilir bergotong-royong mengumpulkan bahan bangunan berupa batu, pasir, semen dan seng dan sama-sama bekerja membangun rumah anggota. Jadwalnya disepakati bersama, diprioritaskan yang telah menyiapkan material secara lengkap, atau yang kondisi rumah tinggalnya reot.

Semua diatur berdasarkan musyawarah mufakat sehingga tidak terjadi cekcok.
Kelompok Jung Golot  Tuke Ler ini sudah hampir lima tahun berjalan, diawali dengan semangat membuka jalan umum karena wilayah ini merupakan daerah penghasil komoditi, tapi susah diakses kendaraan.

Jalan  sepanjang kurang lebih lima km dikerjakan bersama-sama mulai dari pembukaan hingga rabat, ketika warga dusun ini mendapat suntikan dana PPK, dan saat ini PNPM Mandiri.

Filemon, Kepala Dusun Woloklereng saat berbincang-bincang dengan Pos Kupang menuturkan, pada musim kemarau 1999, wilayah mereka sangat kesulitan air bersih. Sumber air di wilayah itu kering dan mereka tak dapat memesan air tangki karena tidak didukung jalan, ditambah harga air tangki mahal, mencapai Rp 250 ribu/tangki.

Untuk itu kelompok jung golot ini bermusyawarah mencari solusi. Satu-satunya jalan adalah membangun bak penampung air hujan (PAH). Setiap  anggota mengumpulkan lima sak semen, lalu pemiliknya melengkapi. Jika bahannya dipandang sudah lengkap, maka anggota kelompok yang mengerjakan tanpa dibayar upah. Pekerjaan itu dilakukan bergilir dan saat ini hampir semua anggota memiliki  bak air.

Berdasarkan pengalaman itu, kelompok ini terus menjaling keakraban lalu melangkah ke pembangunan   rumah. Saat ini baru beberapa rumah yang rampung, sebagian  besar anggota belum merampungkan karena harga bahan bangunan terus naik, sementara komoditi unggulan seperti kakao dan  cengkeh tidak berbuah seiring dengan serangan hama pada tiga tahun lalu.


"Kalau membuka jalan, bangun sekolah, gereja atau sarana publik lainnya, kami selalu bekerja bersama-sama tanpa upah. Semua warga dikerahkan hanya dengan pengumuman kepala dusun pada malam sebelum jadwal bekerja dimulai. Dengan semangat jung golot atau gotong royong, kami bisa membuka jalan puluhan kilometer, membangun gedung sekolah, balai pengobatan, gereja dan lain-lain. Kami menyadari bahwa sarana dan prasarana itu bermanfaat bagi kami. Sayangnya semangat ini mulai pudar," katanya.

Kelompok jung golot ini juga telah merambah ke usaha bersama. Jika usaha bersama ini berjalan baik, akan ditingkatkan ke koperasi.* 
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved