• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Pos Kupang

Membatasi Waktu

Jumat, 31 Desember 2010 09:12 WITA

SETAHUN  akan segera berlalu, bersamaan dengan itu dekade pertama abad 21 pun menjadi sejarah yang dikenang. Tahun 2010 segera berakhir. Tahun baru 2011 akan dimulai. Akhir dan awal merupakan titik kritis yang biasanya ditandai oleh perasaan cemas dan harap. Kedua perasaan ini berkorelasi erat dengan ketidakpastian waktu yang menanti di depan. Rentang masa yang akan diawali dapat berhasil atau gagal melanjutkan apa yang sudah terjadi astau merealisasikan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Orang cemas karena masa depan dapat mengecewakan; sebaliknya harapan bertaut erat dengan peluang keberhasilan. Kemenduaan itulah yang membuat titik peralihan menjadi menarik dan berciri kritis.

Kehilangan kecemasan dan harapan menyebabkan hidup menjadi dangkal. Jika tidak ada perasaan istimewa menghadapi sebuah permulaan atau menyongsong sebuah akhir, maka ada bahaya bahwa orang sedang mengalami pendangkalan makna hidup. Apabila tidak ada rasa syukur atas keberhasilan yang telah diperoleh serta penyesalan atas kegagalan yang dialami, dan kalau tidak ada kecemasan dan harapan menghadapi sesuatu yang baru, maka kita sedang menghadapi masalah serius superfisiliasasi kehidupan.


Krisis peralihan

Tampaknya salah satu alasan mendasar yang mengantar kepada superfisialisasi kehidupan adalah pengalaman kemahakuasaan waktu. Maksudnya, waktu dialami sebagai sesuatu yang kekal dan abadi, yang tidak pernah akan berakhir. Tidak ada yang lebih kekal daripada waktu yang selalu datang dan mengalirkan peluang baru, seolah membanjir dari sumber yang tidak pernah mengering. Waktu akan datang dan datang lagi, sebab itu peluang yang tidak dimanfaatkan tidak perlu diratapi. Semuanya akan berulang, lagu lama akan dinyanyikan kembali, janji-janji diikrarkan dan akan dikhianati lagi. Tidak ada yang sungguh-sungguh hilang, sebab waktu tidak pernah berakhir.

Karena semuanya terulang kembali, maka setiap waktu memiliki bobot yang sama dan makna yang serupa. Peralihan tidak melahirkan rasa cemas dan menimbulkan harapan, sebab tidak akan sesuatu pun yang sungguh baru. Orang merasa rugi kehilangan air mata menangisi masa yang akan berakhir, sebab yang akan datang pun tidak akan berbeda dari yang lama. Dan harapan sama sekali tidak pada tempatnya, karena rentang waktu yang baru tidak akan melahirkan sesuatu yang sungguh khas, sebagaimana dia tidak pernah mengandung keistimewaan.

Waktu yang mahakuasa memancarkan kesewenangannya antara lain dalam diri para penguasa politik yang sewenang-wenang. Kekuasaan politik, seperti waktu, menunjukkan ciri dasar yang selalu identik, kendati nama dan program terkesan berbeda. Pergantian rezim tidak membawa perubahan yang berarti. Maka, periode kepemimpinan siapa pun tidak memiliki nilai yang khas, karena dia tidak lain daripada kamuflase baru dari sikap dan pola dasar kekuasaan yang sama.

Berhadapan dengan kemahakuasaan waktu dan rezim politik, banyak warga merasa tidak berdaya. Yang digilas oleh roda waktu yang selalu bergulir dan mengulang adalah rakyat yang telah kenyang dengan berbagai krisis. Sudah terlampau banyak harapan yang dikecewakan, maka harapan menjadi sebuah sikap yang dicurigai. Orang tidak lagi cemas, sebab kegagalan dan kekecewaan telah merupakan keniscayaan. Tidak ada lagi harapan dan kecemasan yang mereka rangkaikan dengan perubahan rezim dan peralihan kekuasaan. Akibatnya, orang menjadi apatis terhadap perhelatan politik suksesi kepemimpinan. Pilkada berjalan atau tidak, bukan lagi merupakan sesuatu yang dirisaukan atau diharapkan.


Revitalisasi batas waktu


Menghadapi bahaya superfisialisasi di atas, yang perlu kembali dihidupkan adalah kesadaran akan batas waktu. Waktu selalu terbatas, karena waktu selalu bersifat sementara dan menegaskan ketidaklanggengan segala sesuatu. Kesadaran akan batas hanya lahir dari pandangan yang secara sadar diarahkan pada titik final. Setiap waktu memiliki titik final, dan setiap rentang waktu hanya bermanfaat dan memiliki kekhasaan apabila merujuk pada finalitasnya. Hanya kalau ada batas dan jika batas itu disadari, setiap saat akan mendapatkan bobotnya yang khas. Karena ada akhir, maka sesuatu itu tidak dapat diulang secara terus-menerus. Ketakterulangan akan memberikan kekhasan kepada sesuatu. Karena dia tak terulang, maka dia mesti dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Adanya akhir atau final, yang memberikan nilai kepada setiap bagian, menjadi dasar bagi tanggung jawab terhadap setiap bagian itu. Orang dituntut untuk bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan sikap dan tindakannya terhadap setiap bagian, karena setiap bagian itu mempunyai nilai sebagai sesuatu yang tak terulang. Karena alasan ini, maka bentuk pemerintahan yang demokratis dicirikan oleh adanya batas waktu pemerintahan. Sebuah masyarakat pada setiap masa mempunyai hak untuk dilihat sebagai yang khas, tak terulang. Sebab itu, setiap masyarakat pada setiap masa memiliki hak untuk diperintahi secara bertanggung jawab. Pembatasan waktu dan kesadaran akan pembatasan ini mencerminkan kesadaran demokratis seseorang. Seseorang dipilih untuk sebuah jabatan selama masa waktu tertentu. Karena ada batas, maka ada tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Pada batas waktu seseorang diminta untuk mempertanggungjawaban apa yang telah dilakukannya.

Karena batas waktu hadir di dalam setiap tindakan konkrit, dan karena nilai setiap tindakan dan program konkrit diukur berdasarkan keterarahannya pada tujuan akhir, maka rakyat boleh memberikan penilaian terhadap seorang kepemimpinan selama periode kepemimpinan masih berlangsung. Kritikan selama masa sebuah legislatur bukanlah hal aneh dan melanggar aturan demokrasi. Setiap pemerintahan mesti sanggup menjelaskan setiap putusan dan langkah konkritnya sebagai tahapan yang dibutuhkan demi tercapainya puncak yang mau digapai. Kalau demikian, apabila ada kekecewaan yang disuarakan selama dalam perjalanan menuju final itu, maka sejatinya diperhatikan.


Peralihan tahun


Mengembalikan harapan kepada masyarakat merupakan satu tugas kepemimpinan di dalam demokrasi. Salah satu peluang paling tampan untuk mengembalikan harapan itu adalah momentum peralihan tahun. Tugas ini menjadi tidak mudah, sebab, semakin meluas superfisialiasasi kehidupan, semakin besar pula porsis kredibilitas yang dituntut untuk menghidupkan harapan.

Kredibilitas dapat direbut, apabila sebuah janji dirangkai dengan pembatasan waktu yang lebih jelas dan tegas. Kepemimpinan politik akan memenangkan porsi kredibilitas, apabila sanggup merumuskan tugas politik yang lebih spesifik untuk setahun mendatang disertai konsekuensi politisnya. Apabila alasan menurunnya kredibilitas adalah perilaku sejumlah pejabat, maka pembatasan masa tugas mereka dapat menggairahkan kepercayaan warga akan kesanggupan kepemimpinan politik mengemban amanah sampai batas yang sudah ditentukan. *


Staf pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
56759 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas