Tamu Kita

Zainal Asikin : Putuskan Rantai Kekerasan dengan Family Meeting

DI UJUNG rotan ada emas. Pepatah yang sering diamini oleh orangtua sebagai salah satu bentuk pendidikan terhadap anak- anak menuju kesuksesan. Pepatah ini tidak relevan bila diperhadapkan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

DI UJUNG rotan ada emas. Pepatah yang sering diamini oleh orangtua sebagai salah satu bentuk pendidikan terhadap anak- anak menuju kesuksesan. Pepatah ini tidak relevan bila diperhadapkan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Pasal-pasal hukum  akan menjerat siapa pun, meskipun pelaku kekerasan itu adalah orangtua kandung. Seperti apakah obsesi Konsultan Perlindungan Anak, Zainal Asikin, memutuskan rantai kekerasan anak dalam rumah tangganya? Simak wawancara Rosalina Langa Woso dengan  Zainal baru-baru ini.


Mengapa Anda begitu peduli dengan masalah anak ?
Saya peduli dengan masalah anak karena bekerja di banyak tempat yang memiliki program tentang anak. Tahun 2001, masuk di Plan Internasional. Saya merasa bekerja di bidang anak merupakan panggilan hidup yang melahirkan komitmen untuk mengurangi kekerasan terhadap anak. Bagaimana menciptakan dunia  agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Saat bekerja di Plan Internasional itulah, ada banyak fakta yang terungkap bahwa kita masih kurang memperhatikan hak-hak anak. Hak untuk bertumbuh dan berkembang, apalagi partisipasi anak yang masih minim. Partisipasi dalam memberikan pendapat, anak jarang sekali dilibatkan dalam mengambil keputusan dalam rumah tangga.

Apa contoh sederhananya?
Orangtua tidak meminta pendapat anak dalam keluarga. Saat hari raya, anak tidak pernah diajak memilih warna untuk mengecat dinding rumah. Ada orangtua yang tidak bertanya kepada anak mau pilih warna apa. Begitu pun saat ibu memasak di dapur, anak-anak tidak diminta untuk memilih masakan kesukaannya. Seharusnya orangtua meminta pendapat anak dalam memilih warna cat dinding rumah dan masakan kesukaan mereka. Anak-anak menjadi bagian dari keluarga yang memiliki hak yang sama dalam memberikan pendapat dan berpartisipasi.

Seperti apakah gambaran tentang kekerasan terhadap anak itu di NTT?
Pemerintah dan banyak LSM bekerja dengan program khusus tentang anak, tetapi kurang memiliki data akurat tentang kekerasan terhadap anak. Misalnya, di Biro Pemberdayaan Perempuan, belum ada spesifikasi tentang jumlah kekerasan terhadap anak. Secara umum, hanya memiliki data tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebaiknya data tentang kekerasan itu dipilahkan antara kekerasan terhadap perempuan dan anak berdasarkan jenisnya. Menurut data Komnas Perlindungan Anak dari Januari-September 2010, terjadi 2.044 kasus kekerasan anak di seluruh Indonesia. Lebih tinggi dari tahun 2009 yang hanya mencapai 1.998. Sedangkan untuk NTT sampai tahun 2008, menurut Lembaga Perlindungan Anak (LPA), ada 2.447 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan di Kota Kupang sampai Juni 2010, sudah ada 279 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Bisa dijelaskan tentang jenis kekerasan itu?
Ada empat jenis kekerasan terhadap anak. Kekerasan fisik yakni perlakuan yang salah (dipukul, dicubit, dibius dan kekerasan seksual). Kekerasan psikis (mempermalukan anak dengan kata- kata kasar). Eksploitasi (mempekerjakan anak tidak sesuai umur) serta penelantaran (menempatkan anak dalam posisi yang berbahaya). Misalnya, orangtua mendudukkan anak di depan motor dengan tidak menggunakan helm. Orangtua membiarkan anak-anak bermain gunting, silet, pisau dan korek api. Itu merupakan salah satu bentuk penelantaran.

 Jenis kekerasan mana yang dominan? 
Jenis kekerasan fisik dan psikis yang dominan. Biasanya kekerasan fisik pasti didahului dengan psikis. Orang NTT biasanya bentak dulu baru pukul, tidak ada yang tersenyum baru pukul. Ada juga kasus penjualan anak yang sering terjadi di NTT.

Apa pendapat Anda tentang penjualan anak saat ini? 
Ya, seharusnya pemerintah lebih peduli terutama untuk mencegah terjadinya penjualan anak. Ada pengawasan ketat dalam proses perekrutan tenaga kerja dan membangun kesadaran masyarakat. Dalam proses perekrutan tenaga kerja, pemerintah mesti benar-benar menjalankan aturan yang ada, terutama menyangkut kelengkapan administrasi dan tidak menerima suap dalam proses ini. Selain itu, ada upaya untuk menghilangkan kekerasan anak mulai dari sekolah dan di rumah. 

Bisa dijelaskan kekerasan terhadap anak di sekolah?
Anak sering melanggar aturan di sekolah. Telat masuk sekolah, bolos di jam pelajaran, merokok, miras, tidak kerjakan PR yang diberikan oleh guru. Guru harus memberikan konsekuensi logis atau alasan yang masuk akal dalam memberikan sanksi terhadap anak yang melakukan pelanggaran. Sanksi yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh anak dan fokus kepada pemecahan masalah. Guru berharap anak mengerjakan PR, kalau sanksinya anak disuruh lari keliling lapangan tidak ada hubungan dengan masalah.
 
Sanksi apa yang lebih mendidik agar anak mengerjakan PR?
Penyelesaiannya adalah anak diberi sanksi dengan tetap berada dalam kelas untuk mengerjakan PR pada jam istirahat. Sanksi itu ada hubungannya dengan kesalahan yang dilakukan anak.

Artinya, guru harus lebih banyak cara dalam memberikan sanksi yang mendidik?
Peranan guru sangat besar dalam mendidik anak untuk menjadi generasi yang bermutu. Jadi, guru harus lebih banyak diberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengatasi anak yang berperilaku menyimpang. Bila tidak, guru akan bersikap apatis, tidak bersemangat karena takut melakukan kekerasan terhadap anak. Anak dibiarkan saja. Anak akan tumbuh tanpa aturan,  tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Peranan guru sangat besar dalam mengurangi kekerasan anak di sekolah.

Apa dampak negatif bila anak mengalami kekerasan?
Kekerasan secara fisik dan psikis mengakibatkan dampak yang sangat buruk terhadap anak.  Hal itu akan menghambat dalam proses belajar mengajar. Dalam sesi training dengan para guru, dijelaskan tentang fungsi otak. Bagian mana fungsi otak yang bekerja saat anak merasa tertekan, begitupun sebaliknya. Dengan contoh seperti itu, guru akan lebih paham dan tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Dampak langsung adalah menderita secara fisik dan psikis, terganggu pertumbuhan dan perkembangannya. Penderitaan psikis akan lebih buruk karena tidak bisa diprediksi yang bisa diderita seumurnya hidup. Selain itu, para guru juga diminta untuk mengidentifikasi perilaku anak yang  mengganggu di kelas. Cubit teman, lari dalam kelas, main bola, dll.
 
Mengapa anak berperilaku seperti itu dalam kelas?
Anak berperilaku seperti itu karena mencari perhatian, balas dendam, ingin berkuasa dan menunjukkan ketidakmampuannnya. Semua perilaku itu diklasifikasikan, apakah hanya untuk mencari perhatian saja atau balas dendam. Guru tidak memiliki pilihan lain sehingga anak dibiarkan saja, memukul, mencubit, berteriak. Banyak juga guru kita yang kompetensinya kurang memadai yang masih menyakini bahwa di ujung rotan itu ada emas.
Saya sering memberikan gambaran tentang siklus kekerasan sejak dalam kandungan, lahir, kecil sampai dewasa. Setelah besar kita lakukan kekerasan terhadap anak-anak. Ada juga orangtua yang dengan bangga bercerita kalau mereka menjadi polisi karena dulu dipukul dengan rotan.

Apa saran Anda terhadap masalah kekerasan anak?
Saya tidak menekankan tentang konsekuensi UU perlindungan anak, lebih merincikan gambaran tentang siklus perkembangan anak. Guru maupun orangtua memahami kebutuhan anak yang sebenarnya. Anak tidak membutuhkan teriakan, pukulan, cubitan. Kita orangtua saja kurang mampu menguasai diri sehingga lihat anak nakal, langsung pukul. Artinya, guru dan orangtua diberi pemahaman tentang cara menangani anak yang berperilaku menyimpang dalam kelas. Kesamaan persepsi dalam memberikan perlindungan terhadap anak akan mengurangi banyak masalah yang terjadi. Jadi orangtua dan guru yang harus mengubah diri bukan anak yang harus berubah. Kita yang harus membuat mereka tidak ribut di kelas bukan mempersoalkan kenapa mereka ribut.

Seperti apakah perlindungan terhadap anak di rumah ?
Orangtua sering melegalkan dirinya untuk menghukum dan melakukan kekerasan terhadap anak. Alasannya, dirinya telah bekerja keras dalam mencari nafkah. Hal itu tidak boleh terjadi, apa pun alasannya. Orangtua tidak boleh melakukan kekerasan terhadap anak dengan alasan telah berjerih lelah mencari nafkah.

Apa sanksi  yang ideal bagi anak yang melanggar aturan rumah tangga?
Anak harus diberikan sanksi, bukan hukuman. Sanksi itu tidak ada kekerasan dan berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan anak. Misalnya, anak tidak menjalankan tugas dalam rumah tangga (tidak mencuci piring, tidak siram bunga). Sanksi itu harus disepakati bersama semua anggota keluarga. Bila ada yang melanggar tidak mencuci piring, hukumannya bukan dengan pukul, cubit, teriakan dan bentakan. Sanksinya, anak  tidak boleh menonton film kesukaannya, tetapi harus mencuci piring. Jadi, kesukaannya untuk menonton film itu dirampas agar bisa merampungkan tugas dalam rumah. Tidak ada gunanya melakukan kekerasan dengan memukul, cubit dan menampar anak. 

Apa kesan Anda tentang upaya berbagai pihak dalam mengurangi kekerasan terhadap anak?
Kementerian Pemberdayaan Perempuan sudah mulai fokus kepada program pengarusutamaan hak anak dari propinsi sampai kabupaten.  Persoalan anak membutuhkan banyak pihak, termasuk media yang secara terbuka memberikan perlindungan terhadap anak.

Apakah teori perlindungan anak diterapkan dalam rumah Anda?
Anda boleh cek dalam rumah saya. Saya sudah bertekad memutuskan lingkaran kekerasan dalam rumah tangga. Saya sudah memiliki komitmen untuk memutuskan rantai kekerasan itu. Jadi saya berharap bahwa anak dan cucu saya tidak lagi melakukan kekerasan dalam kehidupan mereka setiap hari. Di Selandia Baru itu, mereka membutuhkan tujuh generasi untuk memutuskan rantai siklus  kekerasan dalam rumah tangga. Saya berharap siklus kekerasan itu tidak ada lagi. Bila di luar rumah, saya tidak bisa mengontrol lebih jauh. Awalnya dari rumah saja.


Apa manfaat yang dirasakan dalam keluarga?
Saya punya tiga orang anak. Ada perubahaan yang dirasakan setelah mempraktikkan teori perlindungan anak. Anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam melakukan dialog dalam rumah. Nilai pelajaran baik dan tidak melakukan kesalahan- kesalahan yang bisa berdampak pada pemberian hukuman.  Saat di rumah,  saya lebih banyak menggunakan kalimat positif. Ada kertas yang memuat nama-nama  anggota keluarga. Setiap hari akan mencatat secara baik siapa yang paling banyak mengeluarkan kata kasar. Anak yang kurang berbicara kata kasar diberikan hadiah yang telah disediakan oleh keluarga. Uang jajan ditambah, memilih hadiah yg disiapkan keluarga. Dampak positifnya, anak-anak tidak berbicara kasar, ramah terhadap saudara-saudaranya dalam keluarga.

Selain mengajar anak tidak berperilaku kasar, bagaimana membangun suasana demokratis? 

Ada juga family meeting (pertemuan keluarga). Membahas masalah apa saja yang terjadi dalam keluarga. Pemimpinnya bergantian, suami, istri maupun anak. Misalnya, membahas tentang kenapa anak ketiga satu minggu terakhir selalu pulang larut malam. Masalahnya dibahas secara tuntas dengan solusinya. Semua memberikan saran, termasuk memberi saran kepada orangtua. Pertemuan itu berlangsung setiap akhir pekan, ada keterbukaan, kejujuran, saling memahami dan ada solidaritas anggota keluarga.




Digugat Anak 

SAAT family meeting setiap hari Senin, Zainal Asikin harus bersikap kooperatif dan familiar dalam membangun suasana diskusi bersama anak-anak dan istri. Tujuannya hanya satu, masalah yang terjadi dalam rumah tangganya selama sepekan menemukan jalan keluarnya. Masalah yang dibahas bersifat kompleks dari anak yang sering pulang telat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, dll.

Zainal tidak hanya bersikap sebagai pemimpin pertemuan, forum family meeting dipercayakan kepada istri dan anak-anak. Ia tidak pernah menduga, di suatu waktu pertemuan anak-anak bertanya tentang pekerjaaan swasta yang berpindah-pindah.

Anaknya berharap agar dirinya memiliki satu pekerjaan yang pasti dan nyaman seperti PNS. Harapan ini sangat mengejutkan dirinya dan membuatnya sempat terdiam.

Sebagai seorang ayah, kata Zainal, dirinya tetap berupaya untuk tenang dan memberikan jawaban yang rasional. Pekerjaaan sebagai konsultan saat ini merupakan satu pilihan hidup yang harus dijalani.

Prinsipnya, kata Zainal, setiap pekerjaan memiliki berkat tersendiri yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara baik. Kebutuhan anak seperti makanan, pakaian, rumah, pendidikan, rekreasi terpenuhi walaupun tidak bekerja sebagai PNS. Jadi, baginya, pendapatan yang diperoleh di PNS maupun swasta akan memiliki nilai bila diinvestasikan secara baik.

Spontanitas dan keterbukaan dalam membahas satu masalah dalam keluarga, diakui Zainal, merupakan salah satu proses mendidik anak-anaknya untuk selalu bersikap jujur, berani dan santun dalam berkomunikasi.

Secara teoretis, kata Zainal, dirinya menyimpan banyak ilmu tentang hak-hak anak. Ilmu ini tidak akan ada manfaatnya bila tidak dipraktikkan secara baik dalam keluarga. Ada rasa damai bila dalam rumah tidak ada yang bicara kasar. Anak-anak akan bertumbuh dan berkembang secara wajar karena orangtua menciptakan suasana damai dalam keluarga. (rosalina woso)


Curriculum Vitae
N a m a  :  Zainal Asikin
Jenis kelamin :  Laki-laki
Tempat & tgl lahir     :  Kupang, 26 Desember1967
Alamat Rumah:  Jl. Kabesak Gg Macan No. 4
                    Kel. Oesapa, Kota Kupang, NTT
Nama istri  : Dince M. Loa 
Anak :  Zandy Olliver Asikin, Kupang, 12 Juni 1992
            Geraldy Carlon Asikin, Kupang, 28 Agustus 1996 
           Alda Soraya Asikin, Kupang, 12 Maret 1999
 
Pendidikan :     
SD Persitim 2 Airmata Kupang tahun 1980
SMP Negeri 2 Kupang tahun 1983
SMA Negeri 2 Kupang tahun 1986
Undana tahun 1991
-Spesialis perlindungan anak pada Child Protection Network Universitas Filipina Manila (2010)

Training & Lokakarya Internasional

***Pelatihan Penanganan Kasus Kekerasan Anak dan                        penjualan Anak  - Manila Filipina, Agustus 2010 
      Pelatihan Partisipasi Anak - Bangkok, Thailand  September           2007
***Lokakarya Forum Kemitraan Save the Children New                     Zealand di Asia - Bangkok, Thailand September 2007
***Kunjungan Belajar ke Bangladesh untuk mempelajari                    Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM) - May 2005
***Lokakarya Perencanaan Strategis Plan Indonesia - Jakarta            Indonesia, Mey 2005
***Lokakarya monitoring dan Evaluasi Plan International Asia -        Bangkok, Thailand,  July 2003 

Pengalaman kerja:
***Agustus 2008 - sekarang - sebagai Independen Konsultan        untuk bidang  Perlindungan Anak, Pendidikan, Perencanaan dan Penganggaran dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat untuk beberapa lembaga internasional di NTT & NTB
***Juni 2007- July 2008 - Sebagai Koordinator Program         Pendidikan untuk Kabupaten TTU & Belu, Save the Children        Inggris
***Maret 2006 - Juni 2007 - Sebagai Manajer Program pada        Plan Indonesia Lembata
***September 2004 - Maret  2006 - Sebagai Manajer Program      pada Plan Indonesia Kupang
***September 2002 - September 2004 - Sebagai Koordinator        Penelitian dan Pengembangan Plan Indonesia Kupang
***Oktober 2001- December 2002 - Sebagai Koordinator        Majalah Anak Plan Indonesia Kupang
***January 1999 - Mei 2000 - Sebagai Manajer Iklan pada        Harian Umum Surya Timor
***October 1994 - Desember 1999 - Sebagai staf pada bagian      Iklan Harian Umum Pos Kupang
***January 1992 - September 1994 - Sebagai staf pada Bagian     Pemasaran Koperasi Asuransi Indonesia Cabang Kupang

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved