Tetap Perhatikan Lingkungan
DI Kelurahan Naioni, ada tiga suku yang memiliki lahan yang mengandung batu mangan, yakni Suku Nai Lonbanao, Suku Nekese dan Suku Nailon Kasmetan.
DI Kelurahan Naioni, ada tiga suku yang memiliki lahan yang mengandung batu mangan, yakni Suku Nai Lonbanao, Suku Nekese dan Suku Nailon Kasmetan.
Ketiga suku ini memberikan kebebasan kepada warga Naioni untuk menambang mangan, namun sebelumnya harus meminta izin lebih dulu.
Dalam menambang mangan, sudah ada kesepakatan yang tidak boleh dilanggar oleh warga yang menambang. Pertama, warga tidak boleh menggali di dekat pohon yang sudah cukup besar karena akan mengganggu lingkungan. "Minimal tiga meter jaraknya dari pohon. Tidak boleh terlalu dekat dengan pohon," ujar Ferdinan Lona.
Kedua, warga tidak boleh memotong pohon yang sudah besar dengan tujuan untuk menggali di lokasi tempat tumbuhnya pohon. Larangan berikutnya adalah lubang yang digali maksimal dalamnya dua meter. Setelah mendapatkan mangan, lubang tersebut harus ditutup kembali seperti semula.
Bagi warga Naioni, ada satu hal yang membuat mereka bingung. Ketua LPM, AMS Soleman, Cornelis Tasei dan warga lainnya mengatakan, di kelurahan tersebut tidak pernah ada hutan lindung. Namun Pemerintah Kota Kupang mengklaim bahwa wilayah Naioni memiliki hutan lindung dan sebagian besar mangan berada di dalam wilayah hutan lindung tersebut.
"Kalau betul ada hutan lindung di Naioni, tolong tunjukkan pada kami di mana hutan lindung tersebut. Apalagi kalau ditetapkan sejak zaman Belanda, berarti pohon-pohonnya sudah sangat besar, minimal dua sampai tiga pelukan orang dewasa. Tetapi pohon yang ada di lokasi yang disebut hutan lindung itu hanya pohon gewang dan pohon-pohon yang tidak terlalu besar. Kalau betul ada hutan lindung, mengapa pemkot memberikan IUP kepada pengusaha. Apakah kalau pengusaha tidak mengenal hutan lindung lalu masyarakat yang ingin urus izin dicekal dengan adanya hutan lindung," ujar Kornelis.
Nenosaban secara tegas mengatakan, dalam sosialisasi beberapa waktu lalu di kantor kelurahan, dia meminta agar pemkot bisa menunjukkan peta hutan lindung tersebut. "Sampai sekarang mereka belum kembali ke sini untuk menunjukkan adanya peta hutan lindung tersebut. Saya ini lahir dan besar di sini, tapi saya tidak pernah mendengar cerita dari orang-orang tua kalau di Naioni ada hutan lindung," tegasnya. (ira)