Kupang Punya King
"JANGAN mau melintasi Jalan El Tari Kupang pada malam minggu hingga minggu petang. Banyak anak-anak yang balapan liar. Kamu bisa ditabrak meski sudah hati-hati. Mereka seperti main kucing kaleng dengan polisi. Saat ada penjagaan, tidak ada yang lewat. Namun raung kendaraan dan ciutan ban di aspal akan kembali terdengar bila polisi lengah."
"JANGAN mau melintasi Jalan El Tari Kupang pada malam minggu hingga minggu petang. Banyak anak-anak yang balapan liar. Kamu bisa ditabrak meski sudah hati-hati. Mereka seperti main kucing kaleng dengan polisi. Saat ada penjagaan, tidak ada yang lewat. Namun raung kendaraan dan ciutan ban di aspal akan kembali terdengar bila polisi lengah."
Pesan ini selalu menjadi wanti-wanti masyarakat umum yang ingin melintasi Jalan El Tari, Kupang. Ruas jalan ini memang selalu ramai sejak malam minggu hingga minggu petang. Ada yang sekadar olahraga ringan, ada yang ingin mejeng sambil menikmati jagung bakar, bubur kacang ataupun kolak ubi.
Ada pula kelompok-kelompok atau komunitas terutama otomotif yang kumpul-kumpul di sana. Keadaan ini dimanfaatkan oleh kelompok anak muda yang suka ngebut-ngebutan. Tahu akan bahaya dan sering terjadi kecelakan di Jalan El Tari tidak membuat mereka kapok. Knalpot sengaja dibuka saringannya. Ada yang mendesainnya sehingga menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Sering diberi peringatan oleh kepolisian, mereka tetap melakukan aktivitas tak terpuji ini.
Hal inilah yang kemudian menimbulkan image tidak bagus bagi sebagian anak muda di Kota Kupang. Sepeda motor Yamaha tipe RX King selalu menjadi kambing hitam atau biang keladi keributan. Padahal, tidak semua pengendara sepeda motor suka ugal-ugalan.
Hal itulah yang kemudian membuat Melky Dethan berusaha mengumpulkan beberapa anak muda pengendara sepeda motor RX King untuk membentuk sebuah komunitas. Kata sepakat dibuat. Aturan lalu lintas harus ditaati. Image ugal-ugalan dan kebut-kebutan di jalan raya harus dihilangkan. Mereka kemudian membentuk komunitas yang dinamakan " Kupang Punya King" tanggal 20 November 2009.
Resmi tercatat sebagai salah satu anggota divisi racing Yamaha, Melky Dethan dkk ingin memberi bukti bahwa anak muda Kota Kupang juga punya rasa santun. Mereka juga tahu aturan lalu lintas. Mereka juga menginginkan kenyamanan berkendaraan.
"Motor RX King saat ini memang sedang memiliki image yang tidak baik. Hal ini karena ada sebagian orang yang sering ugal-ugalan di jalan raya. Kami membentuk komunitas ini dengan persyaratan, semua anggotanya harus mematuhi aturan berlalu lintas, aktif terlibat dalam setiap kegiatan dan mematuhi aturan organisasi baik intern maupun eksternal," kata Melky.
Saat ini KPK sudah memiliki 26 anggota tetap. Menetapkan warnet AM PM sebagai sekretariat komunitas, Melky dkk sering ngerumpi bersama di sana. Berbagai ide baik tentang sepeda motor maupun menggelar event mereka rencanakan.
"Kami juga sering mejeng di Jalan El Tari, namun untuk membedakan dengan komunitas lain, kami memasang spanduk. Kami juga ingin memberikan tanda bahwa yang ugal-ugalan di jalan bukan anggota KPK. Kami terbuka untuk semua anak pengendara RX King yang ingin bergabung, namun tentunya melalui tahapan yang sudah ada di KPK," tegasnya.
Sekadar hoby karena sama-sama mengendarai sepeda motor RX King, KPK sudah berbuat sesuatu yang positif. Anak muda sebagai pilar pembangunan bangsa, memang harus digandeng lewat komunitasnya. Jangan 'melawan mereka' tetapi ajaklah berbuat sesuatu yang positif sesuai gejolak muda yang ada di komunitasnya. (eko)