• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Pos Kupang

Keterasingan Orang Asli

Sabtu, 3 Juli 2010 07:55 WITA

Sepanjang jarak 80 km itu tidak ada perkampungan. Setelah kira-kira 50 km dari kejauhan tampak sebuah salib yang menjulang pada sebuah bukit batu. Pastor Mikael mengatakan kepada saya,  "Itu Santa Teresa." Kendaraan yang dikemudinya melaju dengan cepat. Tidak lama setelah itu, kami berhenti tepat di depan sebuah papan. Jarak dari tempat papan itu ke perkampungan kira-kira 10 km. Papan itu sekaligus batas kampung. Papan itu menarik, sebab di sana tertulis peringatan bahwa pemukiman Santa Teresa adalah wilayah bebas alkohol. "Prescribed Area. No Liquor" tertulis jelas di sana, dengan gambar botol dan gelas yang dipalang. Peringatan bagi sekitar 700 penduduk Santa Teresa dan para pengunjung.

Beberapa tahun lalu, komunitas Santa Teresa melarang konsumsi alkohol di wilayahnya. Keputusan ini lahir dari pengalaman bahwa alkohol menjadi sumber kekerasan rumah tangga, pertikaian antarwarga dan berbagai bentuk masalah sosial lain. Atas inisiatif dan desakan sejumlah perempuan yang berpengaruh, akhirnya keputusan itu diambil. Santa Teresa menjadi sebuah kampung bebas alkohol.

Menurut Pastor Mikael, larangan itu dipatuhi. Ada kontrol yang cukup ketat oleh petugas keamanan kampung. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah dengan itu warga kampung sungguh bebas dari alkohol?

Pastor Mikael yang sudah menjadi Pastor Paroki Santa Teresa sejak empat tahun, mesti menjawab dengan sedih: tidak. Sebagian besar penduduk masih mengonsumsi alkohol. Tidak di dalam wilayah kampung, tetapi di luar. Sering mereka ke kota untuk minum miras, atau membelinya dan mengonsumsinya pada batas kampung, di depan papan larangan. Larangan dipatuhi, kampung bersih dari konsumsi alkohol. Namun, kampung tidak bebas dari tukang minum. Mengapa seperti itu?

Penduduk Santa Teresa adalah orang-orang asli Australia dari suku Aranda Tengah. Perkampungan Santa Teresa didirikan pada tahun 1953 sebagai sebuah pusat misi Katolik. Itu berarti, kampung itu relatif muda. Para warga suku Aranda Tengah sebenarnya hidup dalam ikatan keluarga besar dan menempati wilayah sekitar Alice Springs, sebelum kedatangan orang-orang Eropa yang mulai menghuni tempat itu pada akhir tahun 1870-an sebagai salah satu pusat stasiun telegraf. Mulanya hanya petugas di kantor telegraf. Kemudian bertambah. Dengan bertambahnya orang-orang Eropa yang mulai membuka industri peternakan, ruang hidup orang-orang asli menjadi terancam. Mereka yang tidak mempunyai kebiasaan hidup dalam rumah-rumah yang tetap, perlahan dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan dan kenyamaman penduduk baru.

Pada tahun 1929 para misionaris Katolik masuk ke wilayah ini, menyusuli para misionaris Gereja Lutheran dan beberapa komunitas kristen lain. Ketika penguasa baru kota, pada tahun 1937, memutuskan untuk menampung orang-orang asli pada satu sudut kota, para Misionaris Hati Kudus (MSC) itu mendampingi mereka di sana. Orang-orang asli yang terbiasa hidup dalam kelompok keluarganya masing-masing dari budaya berburu dan mengumpulkan, dipaksa tinggal bersama. Kendati demikian, menurut catatan para misionaris, sebagian orang asli itu menemukan pekerjaan di kota dan sungguh dipercaya sebagai pekerja-pekerja yang baik.

Namun, kendali kekuasaan yang berada di tangan para pendatang baru itu kini mengatur sepenuhnya apa yang boleh dan bakal terjadi dengan para warga asli. Karena tempat di pinggir itu dibutuhkan untuk menampung tentara selama Perang Dunia II, maka pada tahun 1942 dalam satu aksi yang mendadak, para warga Aranda Tengah itu digiring ke sebuah tempat bekas pertambangan emas. Kendati menghadapi kesulitan besar karena kekurangan air, para misionaris bersama orang-orang asli itu berusaha membangun bekas pertambangan itu menjadi sebuah wilayah pemukiman. Air memang menjadi masalah, sebab pola peternakan besar-besaran yang dipraktikkan orang-orang Eropa telah mengeringkan sebagian besar sumber air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan orang-orang asli. Orang-orang asli itu terusir dari tanah dan terpangkas dari sumber kehidupan mereka.

Setelah sepuluh tahun di Altrunga, bekas tambang emas itu menjadi jelas bagi semua bahwa pemukiman tidak dapat dipertahankan lagi. Mengembalikan mereka ke tempat-tempat yang semula menjadi milik keluarga mereka sudah tidak mungkin lagi sebab semuanya sudah dikapling para pendatang. Sebab itu, Gereja Katolik meminta dari pemerintah tanah yang kemudian disebut sebagai Santa Teresa.

Wilayah ini pun bukan daerah yang sangat subur. Namun, kemauan dan kerja keras para misionaris dan orang-orang asli memungkinkan tumbuhnya kehidupan di tengah padang yang dibentengi bukit-bukit wadas yang kokoh. Mereka mendirikan sekolah, mengusahakan perkebunan dan peternakan. Meski berbeda dari budaya asli mereka, para warga komunitas Santa Teresa perlahan bisa mempelajari sesuatu yang baru dan mengatur hidup dalam pola yang baru tersebut. Hal yang paling utama adalah bahwa mereka bekerja dan menikmati hasil pekerjaannya.

Persoalan terjadi pemerintah mulai mengambil alih urusan komunitas. Sebagai pernyataan tanggung jawab terhadap warga asli yang harus menderita sekian lama di Australia, pemerintah mengambil kebijakan untuk memberikan bantuan besar-besaran kepada mereka. Karena bantuan pemerintah harus mengikuti sistem tertentu, para penduduk Santa Teresa tidak sanggup menyesuaikan diri. Administrasi yang diperkenalkan dan dituntut melampaui kesanggupan kebanyakan dari mereka. Akibatnya, dengan bantuan dana yang besar itu, penanggung jawab penggunaannya pun bergeser kepada orang-orang yang dikirim pemerintah. Dan mereka bukanlah orang-orang asli Aranda. Orang-orang asli, kalau ada, hanya menjadi pembantu.

Dengan ini, penduduk asli kehilangan tempat dan peluang untuk bertanggung jawab atas kampungnya. Semuanya disediakan pemerintah. Uang dalam jumlah besar, dan tenaga untuk melakukan banyak pekerjaan. Kehilangan tanggung jawab bisa berakibat pada kehilangan rasa harga diri. Kalau orang dipaksa untuk tidak lagi menghargai dirinya sepantasnya, orang mudah menjadi frustrasi. Dalam frustrasi seperti itu, alkohol menjadi salah satu jalan keluar yang mudah dipilih. Frustrasi itulah yang sangat boleh jadi merupakan sebab, mengapa papan larangan di pintu masuk kampung bermanfaat serentak tanpa daya. Dia menjamin kampung dari konsumsi alkohol, namun tidak berdaya menjauhkan warga kampung dari konsumsi tersebut.

Namun, tetap ada harapan. Seperti bisa ada kehidupan di antara bukit-bukit batu dan tanah pasir padang gurun, seperti lukisan-lukisan indah yang keluar dari kedalaman inspirasi di tengah kehidupan yang tandus di gurun itu, dan sebagaimana masih ada perempuan tua yang dengan bijak bertutur mengenai kebijaksanaan tua kepada cucunya yang tidak cukup mendapat perhatian dari ibu kandungnya yang terlalu muda, tetap ada inisiatif perubahan yang mengundang harapan di Santa Teresa. Beberapa waktu lalu, atas sentilan sejumlah pemerhati, orang-orang asli didorong untuk memikirkan semacam lembaga milik mereka untuk menangani semua urusan di dalam komunitas. Tujuan utamanya adalah mengembalikan tanggung jawab mengelola kampung ke tangan para warga.

Tentu mereka mesti didampingi dan dilatih, namun sebagaimana pengalaman dulu bersama para misionaris, kali ini pun diyakini mungkin. Yang penting, orang tidak memaksa mereka berlari dengan kecepatan yang melampaui kemampuan mereka. Bagi Pastor Mikael, gagasan ini diharapkan memulihkan rasa percaya diri orang-orang asli, dan para gilirannya menjadi jawaban atas frustrasi yang mereka hadapi. Kalau itu terjadi, papan di pintu masuk memenuhi fungsinya secara penuh. Santa Teresa kembali menjadi sebuah kampung berpenghuni orang-orang yang tidak lagi dihalangi-halangi untuk tahu dan mau berbuat sesuatu dengan hidupnya, orang-orang yang sekurang-kurangnya masih mendapat peluang untuk tidak asing dari hidupnya sendiri.

Jalan panjang orang-orang Aranda Tengah di Santa Teresa dan Alice Springs serta sekitarnya adalah sebuah ironi dari sebuah perjumpaan tanpa rencana dengan orang-orang Eropa. Ketika penduduk kulit putih Australia hendak memperlancar komunikasi dengan negara induk mereka di Eropa dan membangun jaringan telegraf, mereka justru mengasingkan orang-orang Aranda Tengah dari induk budaya mereka. Karena hendak mempersingkat arus informasi dengan dunia luar, para pendatang itu telah menjauhkan orang-orang asli dari rahim budaya mereka. Tidak tahu, entahkah masih mungkin dan kalau ya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali jaringan budaya para penduduk asli tersebut.

Saat para pendatang hendak membuat hidupnya di tanah yang baru menjadi lebih nyaman dan sesuai dengan standar kehidupan tanah asalnya, mereka justru mengasingkan para warga asli dari tanah kelahirannya. Ironi seperti ini bukan tidak mungkin terjadi di banyak wilayah lain, kalau pembangunan dipaksakan tanpa mengindahkan budaya warga. *



Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
50021 articles 14 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas