Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

Hukuman bagi Pencuri

SUDAH berkali-kali Ibu menasihati Mili, monyet kecil, untuk mencari makan dengan cara yang halal. Pesan itu selalu Ibu sampaikan setiap pagi di saat hendak mencari makan bagi mereka masing-masing.

SUDAH berkali-kali Ibu menasihati  Mili, monyet kecil, untuk mencari makan dengan cara yang halal.  Pesan itu selalu Ibu sampaikan setiap pagi di saat hendak mencari makan bagi mereka masing-masing.

"Mili, Ibu  membesarkanmu dengan makanan yang Ibu cari dengan cara yang halal. Karena itu Ibu tidak ingin kamu terpengaruh oleh teman-temanmu dan tergoda untuk mencuri makanan dari ladang para petani," pesan Ibu suatu pagi ketika  putera kesayangannya itu hendak pergi mencari makan.

"Ah Ibu tak perlu khawatir berlebihan seperti itu. Di hutan ini masih terdapat banyak makanan. Untuk apa Mili harus jauh-jauh mencari sampai ke ladang para petani. Soal teman-teman, siapa yang berani menggoyahkan keteguhan hati Mili?" Mili menyombongkan diri.

"Sebagai seorang Ibu yang melahirkan dan membesarkanmu, wajar kalau Ibu khawatir akan sikap tindakmu di luar sana. Itu semua karena Ibu tidak ingin kamu mati muda karena dibunuh petani-petani itu," tutur Ibu dengan raut wajah khawatir.
 
                    ***

"Kata ayah saya, mangga yang matang di pohon itu sangat nikmat rasanya. Bagaimana kalau kita saling berlomba? Siapa yang terlebih dahulu merAsakan nikmatnya mangga itu dialah yang menjadi pemimpin di antara kita. Dia harus membuktikan dengan memetik mangga itu dari pohonnya dan memakannya di hadapan kita semua," tantang Monty, monyet yang bertubuh paling besar di antara mereka.

"Ha ha ha, mengapa tantangannya hanya seperti itu? Apakah tidak ada tantangan yang lebih berat dari itu? Kalau hanya itu tantangannya, lebih baik mulai saat ini kalian mengangkat aku sebagai pemimpin kalian," sesumbar Mili angkuh.

"Nanti dulu, teman. Kita lihat besok. Siapa yang memenuhi tantangan itu dialah pemimpin sejati kita. Jangan dikira memetik mangga  itu semudah membalikkan telapak tangan," jawab Monty.

Keesokan paginya tanpa pamit kepada Ibu, Mili  langsung mencarinya ke seantero hutan. Namun apa daya mangga itu tidak ditemukannya juga. Ketika tiba di pinggir hutan dilihatnya pohon mangga milik petani sedang berbuah. Beberapa di antaranya sudah matang. Tanpa pikir panjang Mili langsung memanjat dan mengambil buah mangga yang matang itu. Tetapi malang tidak dapat ditolak. Rupanya petani memasang jerat di pohon mangga itu.

Mili terkena olehnya. Seketika perangkap itu menghentakkan kaki Mili hingga tergantung ke atas dan kepalanya di bawah. Dengan tenaga yang tersisa Mili  berusaha memanggil salah seorang temannya untuk menyelamatkannya. Namun bukannya menyelamatkannya, temannya itu malah lari meninggalkannya.
           
                    ***

"Ada pencuri yang terperangkap di atas pohon. Ada pencuri yang terperangkap di atas pohon." Teriak petani ketika dilihatnya Mili tergantung di atas  pohon.

"Ayo kita bunuh dia, ayo kita bunuh dia," teriak petani lainnya yang berhamburan datang mendekati pohon mangga tempat Mili tergantung.

"Jangan bunuh. Kasihan monyet itu masih kecil," teriak salah seorang dari mereka.

"Ah tidak peduli,  kecil atau pun yang besar kalau mencuri harus dibunuh. Itulah hukuman yang tepat bagi pencuri," timpal yang lainnya.

Para petani itu lalu mengikat kaki dan tangan Mili lebih kencang dari sebelumnya dan menurunkannya dari atas pohon. Mili sudah tidak sadarkan diri ketika tubuhnya diguyur minyak tanah dan dibakar. Para petani itu bersorak gembira menyaksikan api mulai menjalari bagian demi bagian tubuh Mili.

"Ini pelajaran bagi para penghuni hutan agar tidak seenaknya mencuri mangga maupun hasil ladang lainnya milik kita," kata petani lainnya.

Monty dan teman-temannya yang bersembunyi tidak jauh dari tempat para petani itu berkumpul bergidik ngeri menyaksikan perlakuan para petani terhadap Mili. Jauh di lubuk hatinya Monty menyesal. Kalau saja dia tidak melontarkan tantangan itu kemarin, mungkin saja Mili masih hidup. Tetapi apa hendak dikata, Mili terlalu berambisi dan melakukan tindakan nekat hanya untuk diakui sebagai seorang pemimpin.   

Jauh di tengah hutan, dari atas pucuk sebatang pohon Ibu memperhatikan perlakuan para petani terhadap Mili  dengan raut wajah sedih. Tanpa disadari air mata telah membasahi kedua belah pipinya. Anak semata wayang yang dibesarkannya dengan susah payah akhirnya harus mati di tangan para petani.

Itu semua terjadi karena Mili tidak mematuhi asihatnya. Ya, Mili telah melakukan suatu hal yang selama ini dikhawatirkannya. Mili telah mencuri dan itulah hukuman bagi pencuri. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help