Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

Pipit Ingin Jadi Cendrawasih

PIPIT belum bisa terbang. Dia diminta Ibu untuk menjaga rumah, karena Ibu pergi mencari makan untuk mereka berdua. Pipit mematuhi nasihat Ibu. Dia bermain tidak jauh dari rumah. Dia hanya melompat di antara dahan-dahan pohon di sekitar rumah.

PIPIT belum bisa terbang. Dia diminta Ibu untuk menjaga rumah, karena Ibu pergi mencari makan untuk mereka berdua. Pipit mematuhi nasihat Ibu. Dia bermain tidak jauh dari rumah. Dia hanya melompat di antara dahan-dahan pohon di sekitar rumah.

Ketika sedang asyik bermain Pipit dikejutkan oleh suara dari rumah sebelah. Pipit melongokkan kepala sesaat. Dilihatnya  Tante Cendrawasih, tetangga barunya itu sudah bangun.
Tante Cendrawasih keluar dari rumah dan berdiri sesaat di salah satu dahan yang ada. Dia tampak sangat cantik dengan pakaian yang dikenakannya pagi itu.

Dia menggerakkan tubuhnya dan kemudian membentangkan ekornya yang panjang. Bentangan ekor itu bagaikan kipas raksasa dengan warna yang luar biasa indahnya. Pipit terpukau melihatnya.

"Halo anak manis, selamat pagi," sapa Tante Cendrawasih saat menyadari ada mata mungil yang memperhatikannya sejak tadi.
"A, a, selamat pagi juga Tante," jawab Pipit agak gugup. Dia malu karena Tante Cendrawasih mengetahui kehadirannya. Dalam hati dia berangan, kalau saja dirinya seperti Tante Cendrawasih itu, dia akan merasa sangat bangga. Dia akan menjadi pusat perhatian dari seluruh penghuni hutan.
 
                ***

Siang harinya seusai makan Pipit mengungkapkan kekaguman dan angan-angannya itu kepada Ibu.

"Bu, Pipit ingin menjadi Cendrawasih. Seperti Tante, tetangga kita yang cantik itu. Boleh kan?" tanya Pipit.  Ibu terkejut mendengar pertanyaan itu. 

"Boleh, kamu boleh menjadi Cendrawasih," jawab Ibu

"Bagaimana caranya, Bu?" Pipit penasaran.

"Gampang. Pipit kan tahu kalau semua makhluk di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Nah Pipit tinggal menyampaikan permohonan itu di dalam doa. Tuhan pasti akan mengabulkan doamu, nak," jawab Ibu.

"Baik Bu. Mulai malam ini Pipit akan berdoa. Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan doa Pipit," ujar Pipit penuh harap. Ibu hanya tersenyum mendengarnya.

"Tuhan, Tante Cendrawasih itu sangat cantik. Setiap pagi aku melihat dia membentangkan ekornya  yang indah itu. Kalau sudah besar nanti Pipit  ingin seperti dia, Tuhan. Pipit ingin dikagumi seluruh warga hutan ini. Amin," doa Pipit sebelum tidur malam itu. Doa itu selalu mengiringi tidurnya pada malam-malam berikutnya.
 
                ***
 
"Bu, rasanya sudah cukup lama Pipit berdoa, tetapi Tuhan tidak juga mengabulkan doa Pipit," keluh Pipit suatu malam seusai belajar.

"Bukan tidak, tetapi belum. Bersabar saja, Nak. Mungkin Tuhan mengabulkan doamu tetapi dengan cara yang lain," jawab Ibu.
Dari luar rumah terdengar suara gaduh.  Ibu mengintip dari balik tirai. Ternyata kegaduhan itu datang dari para penghuni hutan yang berkumpul di depan rumah Tante Cendrawasih. Ibu membuka pintu dan keluar untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

"Ada apa Pak ribut-ribut malam-malam begini?" tanya Ibu.

"Kami sedang mencari Cendrawasih. Ada warga yang melaporkan kepada sesepuh kita di sini bahwa hampir seminggu lebih Cendrawasih  menghilang dari rumahnya," jawab penghuni hutan itu.

"Kira-kira ke mana Cendrawasih itu, Pak?" tanya Ibu lagi.

"Menurut warga yang tinggal di ujung hutan ini, mereka melihat Cendwawasih dibawa orang dengan mobil ke kota. Mungkin saja dia diculik," tutur penghuni hutan itu.

"Malang benar nasib Cendrawasih itu," kata Ibu sambil kembali masuk ke rumah.
 
            ***
 
"Nasib siapa, Bu yang  malang?" tanya Pipit yang hanya menangkap ujung pembicaraan Ibu dengan penghuni hutan itu.

 "Nasib Tante Cendrawasih, tetangga baru kita itu, Nak.  Hampir seminggu ini dia dikabarkan hilang dari rumah. Orang di ujung hutan melihat dia dibawa orang dengan  mobil ke kota. Orang menduga dia diculik,"  jawab Ibu.

"Apa salahnya sehingga dia diculik dan dibawa orang kota?" protes Pipit.

"Kecantikan dan keindahan bulu ekornya itu yang membuat orang kota tergila-gila padanya. Mereka menculik dan membawanya hanya untuk dijadikan pajangan di rumah-rumah mereka," urai Ibu.

Mendengar itu Pipit bergidik ngeri. Untung saja Tuhan belum mengabulkan doanya. Kalau tidak dirinya akan bernasib seperti Tante Cendrawasih itu.

"Terima kasih Tuhan, Engkau belum mengabulkan doaku.  Biarlah aku tetap menjadi Pipit, seperti sekarang ini," doa Pipit malam itu. Dari balik kamar Ibu tersenyum mendengarnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved