Oleh Petrus Y Wasa

Si Buya, Simbol Perjuangan Melawan Ketidakadilan

SETELAH cicak, buaya dan gurita, kini giliran seekor kerbau bernama Si Buya yang melejit namanya ke deretan bintang fabel politik di negeri ini. Berawal dari kehadiran Si Buya bersama para demonstran dalam demonstrasi di bundaran Hotel Indonesia (HI) pada 28 Januari 2010. Meski hanya sesaat, namun kehadiran Si Buya berhasil mencuri perhatian khalayak. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun terusik oleh kehadiran si Buya.

Saat memimpin rapat di Cipanas, Presiden SBY mengatakan, dengan menghadirkan Si Buya, para demonstran sebetulnya ingin mengatakan bahwa dirinya berbadan besar, bodoh dan malas, seperti kerbau itu. Karena itu, menurut SBY, demonstrasi yang menyertakan kerbau, seperti Si Buya itu sudah melanggar norma-norma kepatutan yang berlaku di dalam masyarakat dan hal itu sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup demokrasi itu sendiri.

Berkaitan dengan itu,  SBY meminta para menterinya untuk memikirkan langkah-langkah pencegahan agar demonstrasi seperti itu tidak terulang lagi. Atas permintaan SBY itu, maka ketika Si Buya hendak dihadirkan lagi pada demonstrasi berikutnya, kerbau itu dicekal oleh aparat di  Kalimalang tidak jauh dari  tempat asalnya di Bekasi. Namun pencekalan itu tidak membuat bintang Si Buya meredup dan dilupakan.  Sebaliknya  nama Si Buya kian melambung dan menjadi idola baru di negeri ini.


Sebuah simbol


Bagi Yosep Rizal, aktivis mahasiswa dan penggagas kehadiran Si Buya di Bundaran HI, pihaknya tidak bermaksud untuk menganalogikan Si Buya dengan tokoh tertentu di negeri ini. Kehadiran Si Buya semata-mata hanya sebagai sebuah simbol. Sebagai sebuah simbol, setiap orang memiliki kebebasan untuk menafsirkan maknanya. Jika Presiden SBY menafsirkan seperti itu sah-sah saja, karena itu merupakan hak presiden.

Hal mana, kata Yosep Rizal,  sangat berbeda dengan sebuah tanda, di mana orang harus memiliki pengertian yang sama terhadap tanda itu. Seperti rambu lalu lintas, jika ada tanda dilarang parkir, maka orang tidak akan memarkir kendaraannya di tempat itu. Jika ada yang tetap memarkir kendaraannya, maka orang bersangkutan dapat dianggap melanggar rambu atau tanda yang ada.

Sebagai sebuah simbol Si Buya telah menjalankan perannya dengan sangat baik. Kehadirannya di Bundaran HI telah menimbulkan banyak penafsiran, termasuk di antaranya penafsiran dari seorang Presiden SBY. Berbagai ragam penafsiran yang timbul membuktikan efektifnya pesan yang disampaikan Si Buya. Suatu prestasi yang jarang ditemui dalam setiap demonstrasi yang digelar sebelumnya, bahkan oleh demonstrasi pada 9 Desember 2009 yang melibatkan puluhan ribu massa sekalipun.

Bukti lainnya adalah dicekalnya kehadiran Si Buya pada demonstrasi berikutnya. Dengan dalih menjaga norma kepatutan dan keselamatan demokrasi, penguasa berusaha membatasi ruang gerak Si Buya. Pembatasan itu terpaksa dilakukan karena penguasa khawatir kalau Si Buya  akan menjadi simbol pemersatu bagi elemen-elemen masyarakat yang selama ini jelas-jelas menunjukkan ketidakpuasannya terhadap penguasa. Jika hal itu  terjadi, maka akan merupakan ancaman tersendiri bagi status quo penguasa.

Dikatakan terpaksa karena tindakan Yosep Rizal dan kawan-kawan yang menghadirkan Si Buya di Bundaran HI itu sama sekali tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku tentang demonstrasi. Dengan demikian, pencekalan terhadap Si Buya dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Di sini jelas terlihat  bahwa penguasa menggunakan alat-alat kekuasaan negara untuk menyingkirkan pihak-pihak yang dianggap mengancam kekuasaannya. Negara telah menjadi negara kekuasaan, bukan negara hukum.


Ketidakadilan

Kita semua tahu di mana kerbau biasanya bekerja, makan  dan berkubang. Di sawah, tentunya. Kita juga tahu bahwa petanilah yang biasanya memiliki kerbau.  Pertanyaannya, mengapa petani sampai jauh-jauh membawa kerbau dari sawahnya di Bekasi hanya untuk berdemo di Bundaran HI?  Sementara pada demo-demo sebelumnya petani dan kerbaunya tidak pernah melibatkan diri atau pun dilibatkan?

Petani dan kerbaunya melibatkan diri karena pada lima tahun pertama plus seratus hari pemerintahan SBY dirasakan belum dapat mengangkat harkat hidupnya. Masih banyak permasalahan yang melingkupi kehidupannya sebagai seorang petani. Kelangkaan dan melonjaknya harga pupuk, rendahnya harga gabah, adanya kebijakan mengimpor beras yang berdampak pada menurunnya harga beras di dalam negeri, untuk menyebut beberapa di antaranya.

Kehadiran petani dan kerbaunya Si Buya di Bundaran HI bukan saja mewakili dirinya sendiri, melainkan juga mewakili rakyat kecil lainnya di seluruh pelosok negeri. Termasuk pula mewakili kekecewaan mereka terhadap kinerja pemerintahan SBY.  Kinerja pemerintahan yang hanya menghasilkan kebijakan yang lebih berpihak kepada sekelompok elite ketimbang memihak kepada kepentingan rakyat kecil.

Kasus Bank Century, misalnya. Sudah jelas-jelas bahwa bank itu dirampok oleh pemiliknya sendiri, namun pemerintah masih memberikan dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun. Contoh lainnya, pembelian mobil dinas mewah bagi para pejabat negara, renovasi rumah jabatan anggota DPR, renovasi pagar dan sistem keamanan istana presiden dan yang paling akhir pembelian pesawat kepresidenan. Tentu saja berbagai kebijakan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu harus digelontorkan dana bertriliun-triliun rupiah.

Sudah sepantasnya rakyat kecewa atas kinerja pemerintah. Karena pemerintah telah gagal dalam menentukan skala prioritas pembangunan. Sehingga kepentingan rakyat yang seharulahnya menjadi prioritas pertama diabaikan dan diletakkan pada urutan ke sekian. Malah kepentingan segelintir elitelah yang mendominasi arah dan kebijakan pembangunan saat ini. Hal yang sama sekali bertentangan dengan janji kampanye mereka pada saat pemilu dulu.


Simbol perjuangan

Kekecewaan demi kekecewaan yang dialami rakyat membuat rakyat akhirnya sadar bahwa mereka telah tertipu oleh janji-janji manis kampanye para politisi. Mereka telah salah dalam memilih pemimpin. Kesadaran itulah yang membuat rakyat akhirnya bangkit dan bersama berjuang melawan ketidakadilan  yang  mereka rasakan saat ini. Segelintir elite bergelimang dalam kemewahan, sementara rakyat kecil harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Bagi rakyat kecil, khususnya petani, kerbau adalah bagian dari kehidupan mereka. Hubungan emosional dengan binatang peliharaan mereka yang satu ini sangatlah dekat. Karena itu ketika seekor kerbau bernama Si Buya hadir dalam demonstrasi di Bundaran HI  rakyat kecil merasa seolah mereka ikut hadir dalam demonstrasi itu. Kedekatan emosional itulah yang pada akhirnya tanpa sengaja menjadikan Si Buya sebagai simbol bagi perjuangan mereka.

Hal itulah jugalah yang  membuat mereka merasa bahwa mereka ikut bergabung dengan para demonstran di Bundaran HI itu untuk mengunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap ketidakadilan  yang diciptakan oleh penguasa saat ini. Seperti Si Buya dan tuannya, mereka juga menginginkan agar  pemerintah  memperhatikan dan menempatkan kepentingan mereka sebagai prioritas pertama. Mereka ingin agar keadilan sosial  bagi seluruh rakyat, seperti di janjikan pembukaan UUD '45, benar-benar tercipta, bukan hanya  slogan kosong belaka.  *



Pemerhati masalah sosial,  tinggal di Wolowaru, Ende

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help