Bibit Jagung Jadi Pakan Ternak
SOE, POS KUPANG. com -- Banyak benih jagung bantuan dari Dinas Pertanian Propinsi NTT sudah rusak saat diterima petani di Timor Tengah Selatan (TTS) akhir Oktober 2009 lalu. Tidak layak tanam, benih dijadikan pakan babi.
Fakta itu disampaikan Welem Mella dan Daniel Mone, dua petani asal Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, TTS yang dihubungi Pos Kupang secara terpisah, Selasa (16/2/2010) pagi. Mella dan Mone mengaku mereka menerima bantuan benih jagung dari Distan NTT 22 Oktober 2009 lalu.
"Habis mau bagaimana lagi pak? Daripada dibuang, kami kasih saja untuk pakan babi. Pasalnya pada saat kami buka karung, ada benih yang pecah, sudah fufuk (mulai membubuk, Red) lantaran dimakan ulat sehingga tidak layak ditanam. Bahkan kami mendapatkan ulat yang ada di dalam bibit jagung yang sudah mulai rusak," ujar Mella. Dia menambahkan, sisa bibit yang masih layak ditanam pada satu hektar lahannya.
Untuk mendapatkan bibit yang layak tanam, kata Mella, ia dan istrinya harus memilah mana bibit yang bagus dan mana bibit yang rusak. Dari beberapa karung bibit jagung yang diterimanya ada yang rusak bibitnya dari seperempat hingga setengah karung.
Total benih jagung yang diterima kelompok kami sebanyak dua ton. Benih itu dibagikan ke seluruh anggota kelompok Nekmese yang berjumlah seratus orang. "Jumlah benih jagung yang diterima masing-masing petani bisa berbeda, tergantung lahan yang dimiliki. Kami juga membuat kesepakatan dengan dinas bila panen nanti harus mengganti bibit jagung yang sudah diberikan kepada petani," ujar Wellem Mella, selaku Ketua Kelompok Tani Nekmese. Dia menyatakan banyak anggotanya yang mengalami nasib serupa, menerima bibit jagung sebagian dalam kondisi rusak.
Tak hanya pada tahun 2009, kata Mella, pada tahun 2008 lalu kelompoknya juga menerima dua ton bibit jagung yang sama dengan kondisi bibit yang banyak rusak. Parahnya lagi, saat itu bibit datang terlambat sehingga sisa bibit yang ditanam banyak yang gagal panen.
"Tahun 2008 benih jagung bantuan Distan NTT datang sekitar November. Padahal saat itu kami sudah selesai menanam lahan kami dengan bibit jagung lokal dan bantuan Distan TTS. Sebagai gantinya, tahun ini kami harus mengganti bibit yang gagal panen saat itu," kata Mella.
Tak beda dengan Mella, Daniel Mone, petani lain yang menerima bantuan bibit jagung Distan NTT juga bernasib serupa. Mone menerima satu plastik berisi 20 kilogram bibit jagung. Dari bibit jagung yang diterima sekitar setengahnya atau sepuluh kilogram rusak. "Bibit yang rusak kami kasih makan babi. Habis mau bagaimana lagi? Mau disimpan juga tidak bisa lantaran di sini daerah dingin. Dan nantinya pasti akan hancur, buang," kata Mone. Dia menambahkan, sisa bibit yang ada ditanam pada enam are lahan miliknya, sisa lahannya ia tanami dengan bibit jagung lokal.
Mone menyesalkan banyaknya bibit jagung bantuan Distan NTT yang rusak. Seandainya bibit tidak rusak, maka semua bibit dapat ditanam di semua lahan miliknya.
Mella dan Mone membandingkan bantuan benih jagung dari Distan TTS jauh lebih baik dari bantuan Distan NTT. Para petani tidak menemukan kerusakan bibit jagung yang diterima dari Distan TTS. "Benih jagung dari Distan TTS bagus dan bersih," ujar Mone.
Tak hanya persoalan benih, Mone dan Mella juga menyayangkan tak adanya bantuan pupuk bagi petani. Untuk memupuk tanamannya mereka harus mengeluarkan biaya sendiri.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan TTS, Ir. Gede Witadarma, menyatakan total benih jagung yang diterima sebanyak 6,4 ton. Bantuan itu disebarkan ke empat desa, yakni Desa Kesetnana, Desa Nulle, Desa Enonetes dan Desa Neke. "Saat itu petugas sempat menyerahkan sampel bibit ke dinas. Dan sampelnya bagus," ujar Gede.
Tak hanya bibit jagung, kata Gede, TTS juga menerima bantuan pupuk urea sebanyak 1.600 kilogram, SP, 8.000 kilogram dan NPK sebanyak 12.800 kilogram. Soal distribusi pupuk, dinasnya tidak mendapatkan laporan dari Distan NTT.
"Kami juga menerima bantuan dua handtractor yang diberikan pertengahan Januari 2010 lalu. Dua unit handtractor itu akan diberikan setelah ada kesepakatan KSO dengan petani," kata Gede. (aly)