Daerah Pinggiran Terisolir
KUPANG, POS KUPANG, Com -- Meski menjadi bagian dari Kota Kupang, Kelurahan Fatukoa dan Kelurahan Naioni, lebih layak disebut kampung. Selain terisolir, pelayanan kebutuhan dasar warga seperti air bersih, listrik, akses pendidikan dan kesehatan serta transportasi, masih jauh dari harapan.
Laju pembangunan dua kelurahan yang letaknya di pinggiran itu, sangat lambat. Saking lambat, warga merasakan tidak ada perubahan yang berarti semenjak mereka berpisah dari Kabupaten Kupang.
Terianus Penun, Ketua RW 10 Kelurahan Naioni mengatakan, dari segi fisik pembangunan, tidak ada perbedaan yang mencolok saat Naioni masih menjadi bagian dari Kabupaten Kupang. "Kami berharap setelah bergabung dengan Kota Kupang sentuhan pembangunan akan lebih terasa, ternyata tidak," kata Penun saat ditemui di kediamannya, Sabtu (21/11/2009) lalu.
"Setiap tahun, kami selalu mengusulkan berbagai hal melalui musrenbang, misalnya jalan, air bersih dan listrik. Tapi satupun tidak ada yang terealisasi. Jadi, menurut saya, kondisi Naioni sama saja," katanya.
Di RT 20, Dusun Fatun, Naioni, harga air mobil tangki melambung mencapai Rp 150.000,00/5.000 liter. Ada empat sumur di wilayah itu, cuma saat musim kemarau airnya kering. Sedangkan di wilayah RT 21 dan RT 22, tidak ada sumur. Nikolaus Amnesi, warga RT 20, harus merogoh kocek untuk membeli air meski dia memiliki sumur.
Transportasi dari dan ke Naioni juga sulit. Selain ojek, hanya ada satu unit kendaraan pick up yang 'disulap' menjadi angkutan umum. Ongkos angkutan ke Kupang Rp 5.000,00/penumpang. Sedangkan ongkos satu karung barang bawaan Rp 7.000,00.
Lurah Naioni, Melianus Penun mengatakan, salah satu faktor angkutan umum tidak melayani Naioni karena terkendala jalan rusak. Ada sekitar 13 kilometer ruas jalan yang sudah rusak. Ruas jalan itu dikerjakan sejak tahun 1996 pada saat Naioni bergabung dengan Kabupaten Kupang.
Kondisi yang dialami Kelurahan Naioni, tidak jauh berbeda dengan Kelurahan Fatukoa. Ketua RT 03/RW 01, Kelurahan Fatukoa, Yosafat Tokael mengakui, transportasi menjadi masalah utama bagi warga Fatukoa. Ongkos ojek dari Fatukoa ke Pasar Inpres Naikoten 1 Kupang, misalnya Rp 10.000,00/penumpang, belum termasuk barang. Jika barang bawaan banyak maka ongkos ojek lebih dari Rp 10.000,00. Untuk naik ojek, warga harus berjalan kaki sedikit jauh.
Listrik juga menjadi masalah di Fatukoa. Sampai saat ini warga empat RT (RT 14-18) belum menikmati listrik. Kondisi yang sama dialami warga RT 20-22 Kelurahan Naioni.
Sejumlah warga yang tidak tahan dengan kegelapan, terpaksa membeli genset. Meski demikian, tidak setiap hari mereka gunakan genset.
"Kalau malam hari, daerah ini sangat gelap jadi orang takut jalan. Sekitar jam tujuh malam, pintu-pintu rumah sudah ditutup," kata Tokael.
Air bersih apalagi. Ketiadaan air memaksa warga Fatukoa untuk membeli air mobil tangki. Satu tangki berisi 5.000 liter harganya Rp 80.000,00. Jika tidak ada uang maka warga mengambil air di Kali Nifoupon yang debit airnya sudah berkurang.
Jalan-jalan di Naioni dan Fatukoa juga rusak parah. Ada beberapa ruas sudah diaspal, namun aspalnya sudah terkelupas sehingga menyisakan lubang di sana sini. Sebagian besar belum beraspal.
Kondisi agak berbeda dialami Kelurahan Belo, yang juga letaknya di daerah pinggiran. Transportasi, akses pendidikan dan kesehatan sedikit lebih lancar. Yang menjadi masalah adalah air bersih dan listrik. Warga mengkonsumsi air sumur, kecuali di RT 9 sampai 12.
Lurah Belo, F Frans mengatakan, ada sekitar 90 kepala keluarga yang sampai saat ini belum menikmati listrik. Umumnya, mereka bermukim di RT 6,7,8 dan sebagian warga RT 9. Lampu jalan juga masih kurang, padahal beberapa titik di wilayah itu rawan.
Akses Belo atas dan Belo bawah juga belum lancar karena belum dikerjakan jalan sepanjang 500 meter, di wilayah RT 9 Oelbikusi. (ira)