Catatan dari Piala Gubernur 2009 (1)
Turnamen yang Aneh
KETIKA PS Sabu Raijua mengalahkan Persap Alor di partai pertama turnamen sepakbola Piala Gubernur 2009, semua orang terkejut. Seperti apakah skuad Sabu Raijua sehingga mampu mengalahkan Persap yang sudah bermain di Divisi II Liga Indonesia? Tapi keterkejutan tersebut tidak hanya karena kekalahan Persap Alor. Tetapi ada beberapa catatan 'keanehan' di turnamen ini. Betulkan ada yang aneh?
'Keanehan' pertama adalah ketika Pengprop PSSI NTT mengundang Persab Alor untuk mengikuti event ini. Mengapa aneh? Persap Alor adalah satu-satunya perserikatan di NTT yang hingga saat ini masih bertahan di Divisi II Liga Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan Persap Alor tidak diperbolehkan mengikuti turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) 2009. Haruskah Persap tidak boleh ikut ETMC?
ETMC adalah turnamen yang digagas oleh Mantan Gubernur NTT, Almarhum EL Tari dengan tujuan untuk menyatukan seluruh komponen masyarakat NTT. Di ETMC, tidak dikenal suku Timor, Sumba, Alor, Flores, Sabu, Rote dan lainnya. Yang ada hanya Flobamora. Itulah sebabnya, ditegaskan agar semua kabupaten (bukan perserikatan) di NTT wajib mengikuti event ini.
Hal itu kemudian diperkuat lagi dengan digelarnya turnamen sepakbola Piala Gubernur sejak tahun lalu. Kalau sebelumnya ETMC dijadikan ajang seleksi ke kualifikasi Divisi III, sekarang lewat Piala Gubernur. Kalau begitu, mengapa Persap Alor yang sudah level Divisi II diperbolehkan ikut Piala Gubernur sedangkan ETMC yang tidak ada lanjutannya tidak diperbolehkan? Bagaimana kalau Persap Alor minimal menempati peringkat keempat di Piala Gubernur? Bukankah ini akan menghalangi perserikatan lain untuk bermain di Divisi III?
'Keanehan' lainnya adalah mengenai jadwal pertandingan. Diikuti 12 perserikatan, mereka dibagi dalam tiga grup. Juara dan runner-up lolos ke perempatfinal ditambah dua tim peringkat ketiga terbaik. Yang aneh di sini adalah jadwal disusun dan dikeluarkan oleh pengawas pertandingan (PP). Padahal tugas PP adalah mengawasi jalannya pertandingan. Jadwal, seharusnya disusun oleh panitia (seksi pertandingan) sedangkan wasit atau PP hanya menjalankan jadwal yang dikeluarkan panitia. Apakah ini wujud dari sebuah intervensi?
Puncak 'keanehan' itu muncul dalam partai final antara Perseftim melawan Persewa Sumba Timur. Gol Persewa dianulir hingga disahkannya gol Perseftim yang diprotes kubu Persewa karena menilai ada pelanggaran (off-side). Aparatur pertandingan menetapkan Perseftim sebagai juara karena menilai Persewa melakukan pemogokan. Saat protes dilakukan penguman hasil pertandingan malah dilakukan oleh seorang aparat kepolisian.
Dan, yang paling aneh dalam catatan saya adalah pernyataan Ketua Harian Pengprop PSSI NTT, dr. Stef Bria Seran, yang mengeluarkan pernyataan tentang susahnya mencari rasa nasionalisme di tubuh PSSI NTT. Ada apa dibalik pernyataan itu? Apa benar seperti pernyataan seorang rekan bahwa memang sudah diseting agar hasil pertandingan demikian?
Kalau demikian adanya, ternyata ada orang yang dengan tahu dan sengaja berusaha menghancurkan sepakbola NTT dari dalam. Dia tahu bahwa itu salah, namun dia bangga karena rencananya sukses. Dia kemudian akan berkoar di mana-mana dengan mengatakan, "Mereka menang karena saya yang atur. Kalau bukan saya, belum tentu mereka menang." Apa itu kebanggaan? Haruskah demikian? Ini hanya pertanyaan biasa, karena kamu tahu jawaban yang luar biasa.
Pernyataan tentang nasionalisme dari dr. Stef Bria Seran yang erat hubungannya dengan prestasi cukup menggelitik kalbu. Bukan memvonis, namun menjadi aneh karena di zaman digital seperti ini, ternyata masih ada yang nekat berbuat seperti itu. Dia tidak sadar bahwa di balik keangkuhannya dengan mengatakan mengerti aturan, ternyata ada yang lebih tahu dari dia. Ada ribuan penonton yang sejak tanggal 9-25 November menonton dan menyaksikan itu. "Kamu tidak bisa putar balek (tipu). Semua orang nonton dan mereka tahu aturan," itu kata Stef Bria Seran.
Ketua Panitia turnamen, DR. Filemon da Lopez, tak dapat menahan gejolak hatinya ketika ditanya wartawan tentang jalannya turnamen. Dia meramu awalnya dengan baik, namun keanehan malah muncul saat dia sudah menggapai puncak. "Itu bukan kewenangan panitia, karena kami sudah berusaha untuk berbuat yang terbaik," ujarnya.
Niat Pengprop PSSI NTT untuk menaikkan gengsi Piala Gubernur dengan menambah besarnya bonus dan membuat tropi dari cendana berlapiskan emas ternyata masih butuh waktu. Hadiah dan piala boleh makin menggiurkan, namun kalau gelar yang diperoleh terasa hambar, idiealisme dan optimisme memajukan sepakbola tetap akan berjalan di tempat. (sipri seko/bersambung)