Oleh Petrus Y Wasa

Tak Kenal, Maka Tak Sayang

SIANG itu Wanda pulang dari sekolah dengan wajah cemberut. "Wah, payah. Katanya kita sekarang hidup dan belajar di zaman moderen, tapi kok masih disuruh mempelajari hal-hal yang kuno dan sudah ketinggalan zaman," ujar Wanda kesal sambil membanting tas sekolahnya di atas sofa ruang tengah. Mama yang sejak tadi asyik menonton infotemen dibuat terkejut olehnya.

"Apa yang payah, Wan?" tanya Mama.

"Pak guru mata pelajaran Muatan Lokal itu, Ma. Dia menugaskan Wanda dan teman-teman untuk mempelajari tarian tradisional. Tarian itu harus dipelajari sungguh-sungguh. Pada akhir semester nanti setiap siswa harus bisa membawakan tarian tersebut pada pementasan di sekolah karena akan diberi nilai," tutur Wnda lesuh.

"Kamu tidak bisa menyalahkan Pak Guru, Wan. Karena tugas itu ada di dalam kurikulum, bukan hasil karangan Pak Guru. Lagi pula maksudnya baik. Supaya kalian para generasi muda dapat mengenal budaya warisan dari leluhurmu. Jangan sampai hanya mengaku sebagai orang NTT tetapi sama sekali buta dengan budaya tradisional NTT itu sendiri," jelas Mama.

"Tapi di mana Wanda harus berlatih? Kalau belajar dance kan mudah, banyak sanggarnya," sahut Wanda bingung.
"JTidak usah bingung. Kalau soal tarian tradisional, kamu tidak usah jauh-jauh mencari sanggar. Mama akan mengajarimu," jawab Mama.

"Ah, yang benar, Ma," Wanda tidak percaya atas apa yang dikatakan Mama.

"Mama akan mengajarimu tarian Wanda Pa'u. Tarian tradisional dari Kabupaten Ende, daerah asal Mama. Yang penting kamu mau tekun berlatih," tukas Mama.

"Wanda mau, Ma," jawab Wanda senang sambil memeluk Mama erat.

 
                                ***
 
"Tarian ini adalah tarian pergaulan pada masyarakat Lio, Ende. Karena itu kamu harus membawakannya dengan hati dan raut wajah riang. Dengan tarian ini kamu akan mengajak para tamu di hadapanmu untuk ikut menari dan bergembira bersamamu pada saat pementasan tersebut," Mama memberikan instruksi saat mereka mulai berlatih sore itu.  

Wanda tampak cantik dengan mengenakan  kain tenun ikat Lio. Sebuah selendang melingkari leher kecilnya. Dengan diiringi musik Feko Genda,  yakni musik suling yang diikuti irama hentakan pukulan gendang, dari kaset tape recorder Wanda mulai mengembangkan tangan dan meliuk-liukkan tubuh mengikuti gerakan Mama. Langkah kakinya tertatih-tatih mengikuti langkah kaki Mama yang berpindah-pindah dengan cepat. Cukup lelah, namun menyenangkan. Ternyata tidak gampang  mempelajari tarian yang dianggapnya kuno dan ketinggalan zaman ini.

"Bagaimana, masih bersemangat untuk tetap latihan?" tanya Mama.

"Masih, Ma. Wanda akan tetap ikut latihan," Wanda meyakinkan Mama.

"Untuk kamu ketahui Wan. Nenekmu almarhum sangat piawai membawakan tarian yang sedang kamu pelajari ini. Di saat menyambut tamu terhormat, nenekmulah yang dipercayakan tampil. Siapa pun tamu itu, pasti akan larut dan ikut menari bersamanya. Nenek lalu mewariskan tarian ini kepada Mama," kisah Mama.

"Waktu kecil Mama juga berlatih seperti Wanda?" Tanya Wanda. Mendengar itu Mama tersenyum.

"Ya, Mama juga tekun berlatih sepertimu. Pada suatu kesempatan menerima tamu, ssalah seorang tamu itu tertarik pada Mama. Tamu itu adalah Bapakmu. Bapak kagum karena Mama membawakan tarian itu dengan sangat baik. Sebagai bukti kekaguman Bapak, ketika kamu lahir, Bapak menamaimu Wanda. Dalam bahasa Lio, Ende Wanda artinya menari atau tarian," Mama menutup kisahnya.

"Oooh, ternyata nama Wanda memiliki kisah tersendiri, ya Ma," seru Wanda senang saat mengetahui kisah manis di balik namanya.

"Karena itu Mama sangat mengharapkan kamu tekun berlatih. Agar nantinya kamu dapat membawakan tarian itu dengan baik seperti yang pernah dilakukan nenek dan juga Mama. Seperti nama Wanda yang telah diberikan Bapak kepadamu," pesan Mama.
 
                           ***
 
Wanda kembali dari arena pementasan dengan wajah riang.
"Berhasil, Ma. Wanda berhasil," seru Wanda sambil melompat kegirangan.

"Kamu bisa menarikan dengan baik, Wan," Tanya Mama.
"Wanda mendapat poin sembilan, Ma. Sesuai pesan Mama, Wanda meminta giliran yang terakhir pada pementasan itu. Di saat para juri  telah lelah dan jenuh Wanda tampil dan menghibur mereka. Tidak hanya juri, para guru dan kepala sekolah pun Wanda ajak untuk menari. Akhirnya semua ikut larut dan menari," tutur Wanda.

"Wah, sungguh hebat anak Mama yang satu ini," puji Mama.
"Tidak hanya itu, Ma. Wanda juga terpilih untuk mewakili sekolah dalam pementasan seni budaya antarsekolah di tingkat kecamatan nanti," tambah Wanda. Mendengar itu Mama merangkul dan memeluk Wanda.

"Kau sungguh luar biasa, nak. Kau telah mewarisi bakat besar nenekmu," kata Mama. Kedua kelopak mata Mama  dipenuhi air mata bahagia.

"Wanda juga mau minta maaf Ma atas ucapan Wanda tempo hari. Wanda telah keliru menilai tarian tradisional kita," ujar Wanda.

"Tidak apa-apa , nak. Itu semua karena kamu belum
mengenalnya. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan tak kenal maka tak sayang?" jawab Mama penu kasih. Wanda tersenyum bahagia dalam pelukan  Mama. *

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help