Gandeng Puteri Pariwisata NTT

Rumah Poetika Road Show Kupang Puitik

KUPANG, POS KUPANG.COm -- Lembaga Seni Budaya Rumah Poetika menggandeng Puteri Pariwisata NTT 2009 Meisye Woda dan Puteri NTT 2009 Dona Bella Permata Rissi untuk menggelar Road Show Kupang Puitik di sepanjang Jalan El Tari dan lokasi jajan malam Kampung Solor-Kupang, Sabtu (21/11/2009).

Dalam kegiatan ini juga dilakukan survei mengenai minat masyarakat terhadap seni dan sastra serta sajian ruang publik (tempat umum) yang digunakan masyarakat untuk menikmati suasana santai.

Direktur Rumah Poetika, Bara Patyraja melalui press release- nya yang diterima Pos Kupang, Selasa (24/11/2009), menjelaskan, kegiatan ini memgusung tema, Kupang Dalam Napas Puitik.

Tujuannya, membuka ruang apresiasi atas seni dan sastra kepada publik melalui sajian musikalisasi puisi. Selain itu, mendekatkan seni dan sastra kepada masyarakat Kota Kupang dan menggali informasi tentang sejauh mana respek masyarakat terhadap sajian seni dan sastra sebagai sebuah ranah apresiasi budaya.

Patyraja menyebut beberapa kegiatan yang dilakukan dalam roadshow ini, antara lain demonstrasi musikalisasi puisi (dalam created agenda ngamen musikalisasi puisi).


Teman-tema musikalisasi puisi  yang disajikan pada acara ini adalah tema-tema lokal Kota Kupang yang mengambil latar beberapa ikon Kota Kupang, yakni Teluk Kupang, Di Bawah Patung Ina Boi, dan Jalan Tilong.

Tema-tema ini, katanya, merupakan karya seorang penyair Indonesia yang saat ini menjadi pegiat puisi di Rumah Poetika Kupang, Riki Dhamparan Putra.

Ia mengatakan, rendahnya animo masyarakat untuk menerima dan mengapresiasi seni dan sastra di NTT sesungguhnya menjadi ancaman terhadap potensi-potensi kreatif untuk menumbuhkembangkan seni dan sastra masyarakat NTT.
Hal ini, katanya, disebabkan kecenderungan masyarakat untuk menikmati paket-paket hiburan yang teraudiovisual melalui perangkat-perangkat media elektrik.

Dalam kuesioner yang disebarkan kepada masyarakat untuk ruang publik (khususnya di Jalan El Tari), orang datang menikmati suasana malam. Hal ini, katanya, dilatari pemikiran jika orang datang ke Kota  Yogyakarta, dia merasa cukup puas jika menyinggahi Malioboro, yang telah menjadi ikon kota Yogyakarta.

Namun, katanya, jika datang ke Kupang tidak ada ruang publik yang memberi kesan khas untuk didatangi orang. Kupang, katanya, seperti kota tak memiliki ikon. (nia)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved