Eltrin Paskahyati Do Lalu
Berkat Dukungan Mama
SISWA SMA Kristen Mercusuar Kupang ini mungkin merupakan salah satu bukti pengarahan orangtua yang mampu membuat seorang anak peduli pada budayanya.
Eltrin Paskahyati Do Lalu, anak pertama dari tiga bersaudara, putri pasangan Robin Do Lalu (bapak) dan Matintje Bangngoe (ibu) ini mampu membuktikan bahwa dari dukungan sang ibu, gadis ini mampu menembus pintu nasional dengan membawakan berbagai tarian daerah, seperti Likurai dan Koteklema dalam even budaya Pawai Nusantara HUT ke-64 RI di Istana Negara.
Dia menekuni tarian daerah berawal dari kelas 3 SD. Sang ibu mulai mendaftarkan Eltrin pada sanggar-sanggar tarian daerah yang dibina oleh Ibu Paulina Samosir.
Awalnya, tarian daerah terasa biasa saja bagi Eltrin, namun kini telah menjadi kecintaannya.
Kenapa ya? "Tarian daerah itu anggun dan berciri khas," Jawab Eltrin, dihiasi senyum manisnya.
Remaja saat ini mungkin merasa bahwa tarian daerah sudah "JaDul" alias "Jaman Dulu". Untuk menonton pertunjukan atau festival budaya saja, sudah terasa malas.
Yang seharusnya, remaja belajar karena kecintaan mereka terhadap budaya daerah. Tidak demikian dari Eltrin, yang duduk di kelas XII ini dan akan menjelang UAN, tidak merasa terganggu dengan minatnya terhadap tarian daerah. Dia tetap aktif dan eksis membudayakan budaya asli NTT.
Eltrin juga mempunyai pesan bagi siswa-siswi SMA lainnya. "Budaya asli kita patut dilestarikan, apalagi di zaman sekarang, yang remajanya cenderung menyukai budaya modern. Khususnya remaja NTT, budaya daerah kita itu adalah simbol jati diri masyarakat NTT." (anna/smantig/rilis/givans)