Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

Embi, Embun Pagi yang Selalu Menepati Janji

PAGI itu adalah pagi pertama Pupi, seekor kupu-kupu kecil melihat dunia. Suatu pagi yang cerah , segar dan indah. Pupi mengepak-ngepakkan sayap mungilnya mengitari taman bunga di sekitar tempat tinggalnya.

"Ah, kalau tahu dunia begitu indah, aku tidak perlu berlama-lama menjadi bayi kepmpong", kata Pupi dalam hati,  Menjadi bayi kepompong sangat membosankan. Kegiatannya hanya itu-itu saja, kalau tidak tidur ya makan, kalau tidak makan ya tidur.

"Hai sahabat kecil. Selamat pagi", terdengar sebuah suara menyapanya lembut. Pupi mencoba mencari asal suara tersebut. Namun matanya yang mungil tidak menemukan siapa-siapa di taman itu.

"Hai sahabat kecil, aku di sini. Aku di kelopak mawar ungu di sampingmu", lanjut suara itu lagi. Pupi pun mengarahkan pandangannya kea rah mawar yang disebutkan. Di sana tampak tetes-tetes embun menempel erat pada kelopak mawar yang baru mekar itu. Kehadirannya membuat kelopak mawar itu semakin terlihat indah dan segar. Kupi berusaha mendekati. Dia agak terkejut saat embun itu menyorongkan tangannya untuk berkenalan.

"Maaf sahabat kecil, aku telah mengejutkanmu. Bentuk tubuhku memang seperti ini. Aku Embi,  embun pagi yang selalu bersahabat dengan bunga-bunga di taman ini. Maukah kau menjadi sahabatku?" kata Embi sambil menyodorkan tangannya. Tanpa ragu Kupi menyambut uluran tangan Embi itu.

"Aku Pupi, penghuni baru taman ini. Aku baru mencoba menggerakan sayapku   mengitari taman ini. Meski taman ini indah tetapi kalau bermain sendirian rasanya bosan juga. Lebih baik kita bermain bersama", ajak Pupi.

"Tapi bagaimana caranya? Aku kan tidak bisa terbang seperti kamu", tanya Embi.
"Gampang. Naiklah ke punggungku dan kita akan terbang bersama-sama. Setuju?", usul Pupi

"Setuju", sahut Embi girang sambil melompat ke punggung Pupi. Keduanya pun larut dalam permaianan yang menyenangkan  Keduanya hinggap di salah satu kelopak bunga dan bermain di sana . Setelah bosan berpindaah lagi ke kelopak bunga lainnya. Keasyikan bermain membuat mereka lupa bahwa matahari telah meninggi.

                ***
"Pi, Pupi, kukira sudah dulu ya permainan kita untuk pagi ini. Matahari telah meninggi dan terik.Sudah saatnya bagiku untuk meninggalkan taman ini", kata Embi sambil melompat turun dari punggung Pupi.

"Tapi..., tapi mengapa kita tidak bisa bermain sepuasnya sampai sore?' Pupi tak mengerti.

"Sebenarnya aku ingin bermain sepuasnya bersamamu di taman ini. Namun aku masih mempunyai tugas lain. Di taman-taman bunga di belahan dunia lain saat ini ada banyak sahabat-sahabat kecil kupu-kupu lain yang juga menunggu kehadiranku. Mereka pun ingin bermain sepuasnya denganku di taman-taman tempat tinggal mereka", jelas Embi.

"Tetapi kamu harus berjanji kalau kamu akan datang kembali besok pagi dan menemaniku bermain di taman ini", pinta Pupi.

"Ya, aku berjanji. Aku akan datang lagi besok pagi", sahut Embi sambil beranjak pergi.
Akibat kelelahan bermain sejak pagi membuat Pupi melewatkan waktunya sepanjang sore hingga malam untuk tidur.
                               * * *
"Pupi, Pupi, hari sudah pagi. Ayo bangun", samara-samar Pupi mendengar sebuah suara memanggilnya. Namun dia masih malas dan tetap bersembunyi di balik selimutnya.

"Pupi,.  ayo bangun. Mari kita bermain di taman", seru Embi dari luar rumah.
"Itu pasti Embi", tebaknya. Pupi segera melompat dari tempat tidurnya dan menuju taman. . Alangkah gembiranya Pupi ketika didapatinya Embi sudah berada di antara kelopka-kelopak bunga yang bermekaran di sana

"Nah, sekarang kita bisa bermain kembali seperti kemarin, kan ?" kata Embi. Sambil melompat ke punggung Pupi. Kedua sahabat itu pun larut dalam permainan mereka. Pupi merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Embi. Sahabat yang selalu menepati janjinya. (*)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help