Kamis, 11 Juni 2026

Cerpen Rynn Rewu, Kelas XI IPA 5 Smantiq Que-Punk

Ibu

TERLAHIR sebagai anak yatim bukanlah keinginan setiap anak, termasuk aku. Melihat ibu yang berjualan sayur di pasar dari pagi buta hingga larut malam untuk menyekolahkanku membuat aku semakin terpacu untuk belajar lebih giat. Mungkin orang lain menganggap aku munafik, tapi inilah yang aku lakukan.

Tayang:

Menjadi anak yang tak pernah melihat wajah ayahnya bukanlah hal yang mudah bagiku. Sering aku menangis melihat anak-anak lain bisa bergelayut manja di pelukan ayahnya. Kadang aku marah pada Tuhan yang tak memberi aku kesempatan untuk melihat wajah dan rupa ayahku. Tapi aku tak mungkin menyalahkan waktu dan keadaanku yang sekarang. Yang harus aku lakukan adalah membahagiakan ibuku yang masih ada.

Terngiang selalu pesan ibu padaku, "Kalau ingin hidup senang di kemudian hari, kamu harus rajin berdoa, belajar dan bekerja."

Jam tiga pagi ibu sudah bangun dan berkemas untuk berangkat ke pasar. Sebelum berangkat, ibu selalu menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan untukku yang masih tidur. Tak peduli pada dingin dan kegelapan di pagi buta, ibu tetap berangkat untuk berjualan. Ibu baru akan kembali ke rumah saat jam telah menunjukkan pukul 12 malam.

Suatu malam aku terbangun tepat tengah malam. Samar-samar aku mendengar ada suara orang yang berbisik-bisik. Kupertajam pendengaranku sambil melangkah ke depan pintu. Aku coba mengintip dari balik celah pintu. Terlihat ibu sedang berlutut menghadap patung Yesus. Terdengar suara ibu sedang berdoa.

 "Ya Tuhan, dampingilah anakku kala ia sendirian, hampirilah ia karena ia membutuhkanmu. Tuhan genggamlah tangannya, tuntunlah ia dari tempat yang kelam. Singkirkanlah rasa ragu dan takut. Hapuslah air mata dari wajahnya. Tuhan, ia tak bisa sendirian, ia perlu bantuanmu. Ia perlu kehadiranmu dalam dunianya yang dingin. Ia membutuhkan sentuhan tangan kasihMu. Tuhan, jadilah sahabat bagi dirinya. Peluklah ia hari demi hari, sebab dalam dekapanMu aku tahu ia akan bahagia."
Ibu kembali meneteskan air matanya.

Ini kali pertama aku melihat dan mendengar langsung doa ibuku. Kesedihan kembali menerkam diriku, mengoyak dan mencabik-cabik hati kecilku. Tuhan, terima kasih telah kau beri aku ibu seperti dirinya. Air mata sudah tak terbendung lagi. Akhirnya tumpah dan berlinangan di pipiku. Tak kusangka ibuku bangun di tengah malam begini untuk mendoakanku. Aku kembali ke tempat tidur dan menangis lagi. Tak terasa aku ketiduran hingga pagi.

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dengan mata yang masih sembab karena menangis semalaman. Terlihat para siswa mengerumuni papan pengumuman sekolah. Aku mendekati kerumunan itu dan menyelinap di antara mereka. Mataku terbelalak melihat tulisan di papan pengumuman. Doa ibuku terkabul. Aku terpilih sebagai salah satu siswa yang menerima beasiswa untuk kuliah di luar negeri. "Puji Tuhan." Itu adalah kata pertama yang aku ucapkan saat itu. Tangisku pecah lagi. Tak peduli pada apa pun lagi. Aku segera berlari ke pasar tempat ibuku biasa berjualan.

Dari kejauhan ibu melihat aku yang berlari-lari. Segera saja beliau berlari menghampiriku. Tapi saat tinggal kurang dari 1 meter aku mendekati ibu, sebuah mobil menghantam tubuh ibu dari belakang. Tubuhnya terlempar cukup jauh.
"Ibuuuuu...... ! teriakku histeris.

Segera aku hampiri tubuh ibu yang berlumuran darah. Kudekap tubuhnya erat, sambil terus memanggil-manggil namanya.
"Ibuuu..... Ibuuuu..... " Kata-kata itu terus saja keluar dari mulutku tanpa henti.

Ibu membuka matanya dan menatapku, lalu menjamah wajahku
dengan tangan tuanya. Sekilas ia tersenyum padaku lalu menghembuskan nafas terakhirnya sebelum kami sempat membawanya ke rumah sakit.

"Ibuu...." teriakku sambil menangis histeris.
 Padahal baru saja aku ingin menyampaikan berita bahagiaku padanya. Ibu maafkan aku, sampai akhir hayatmu pun aku belum bisa memberikan yang terbaik bagimu. Ibu pergi untuk selamanya, meninggalkan aku sebatang kara.  *
 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved