Oleh Sipri Seko
Mana Sesumbarmu?
WAJAH anggota wasit Pengprop PSSI NTT, Pius Jemadu lebam. Belum diketahui pasti apa penyebabnya. Namun dari bekasnya, nampaknya Pius Jemadu dipukul. Pius geram hendak membalas. Namun dia tahu, seperti apa status dirinya dalam turnamen sebesar El Tari Memorial Cup (ETMC).
Protes kubu PS Kota Kupang (PSKK) terhadap keputusan wasit yang tidak mensahkan gol strikernya, Ibnu Sanda, berbuah kericuhan. Beberapa aparatur pertandingan yang tidak bertugas berusaha ikut melerai. Namun kericuhan yang meredah, justru bogem mentah yang mereka terima.
Haruskah ini terus terjadi? Memang beginikah wajah sepakbola kita? Atau mungkin kita belum kuat untuk siap menerima sebuah kekalahan. Apalagi, kekalahan itu diderita raja sepakbola NTT, PSKK, yang diperolehnya dari tim yang baru pertamakali ikut ETMC. Protes sudah dilakukan, namun kekalahan tidak bisa dielakkan.
Kalau ada kisah bidadari dari kahyangan, maka ini bukan kisah pangeran dari jagat antah- berantah. Ini bukan pula adu terampil main sulap, sepiring uang datang begitu saja tanpa harus bekerja keras. Willy A Pong (Persim), Decky Kadja (Persematim), Adrianus Adi (Persamba) dan Cholid Mawardi (Perseftim) bukan sedang berada dalam cerita dongeng. Timnya kini sudah berada di semifinal. Jagad sepakbola Flobamora mengacungkan jempol. Mereka juga ikut mengepalkan tinju ke udara seraya berucap, "Inilah kami, mana sesumbarmu."
Mengapa mereka harus berkata demikian? Karena mereka memiliki nyali untuk mencungkil dominasi para penguasa prestasi. Mereka kini sedang mengukir sejarah baru dalam sepakbola NTT. Para raksasa masih berkutat pada pengetahuan mereka yang sudah usang karena dibawa dari zaman tradisional. Mereka yang lahir di era sepakbola modern, sudah memberi bukti bagaimana menjinakan dan menggulingkan penguasa lama.
Babak semifinal kini sudah menjadi miliki Perseftim Flores Timur, Persematim Manggarai Timur, Persamba Manggarai Barat dan Persim Manggarai. Trio Manggarai mengepung Flores Timur. Perseftim, tim yang pertamakali menjuarai turnamen ini akan melawan anak-anak Manggarai yang sebenarnya tidak memiliki tradisi sepakbola.
Anak-anak Manggarai yang sama sekali tidak diunggulkan sejak turnamen ini dimulai, kini sudah boleh bertepuk dada. Mereka 'sudah boleh sedikit angkuh' untuk mengatakan, "sekarang sepakbola NTT adalah milik kami." Untuk itu Perseftim harus berhitung banyak kalau tidak ingin melihat All Manggarai Final di akhir turnamen ini. Tak ada cara lain untuk menghadapi permainan yang berani berisiko ini, kecuali konsentrasi penuh.
Decky Kadja, pemain klub AS Roma, Kota Kupang, yang mencetak gol tunggal Manggarai Timur ke gawang PSKK kini punya ambisi lain, yakni membawa pulang tropi ETMC untuk Persematim. Namun, Decky masih harus melewati Persamba Manggarai Barat, karena di sana ada Syahlan Umar, Marsi Ambotang dan Adrianus Adi yang sangat tahu tipe permainan Decky.
Menonton partai-partai terakhir di ETMC 2009 ini memang amat menegangkan. Takjub terhadap prestasi trio Manggarai yang menguasai babak semifinal seharusnya sudah cukup sampai di sini. Mereka tidak lagi bermain dengan mengandalkan kejutan dan keajaiban. Mereka kini sama-sama memiliki ambisi untuk menjadi yang terbaik.
Mereka ingin menang dengan normal. Mereka ingin menang tanpa keajaiban tapi karena kualitas. Tetapi, mengapa keajaiban harus dilarang? Dan, siapa yang bisa melarang keajaiban terjadi? Toh, mereka kini sudah melewati target dan prestasi yang tidak pernah disangkanya. Karena itu, kalau kali ini keajaiban terjadi lagi, senyum di bibir rakyat akan mendengung kembali dalam doa syukur. Sepakbola memang sulit diprediksi. (*)