Rabu, 10 Juni 2026

Oleh Sipri Seko

Peringatan Buat Para Raksasa

AIR mata tertumpah di Stadion Lebijaga, Bajawa, Rabu (29/7/2009). Johni Dopo tertunduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung diselimuti duka. Ucapan selamatnya tak bisa menyembunyikan duka dari ambisinya yang tidak tercapai, ingin menjadi juara di rumah sendiri.

Tayang:

Heru Nerly tertatih-tatih ke luar dari lapangan. Matanya menatap kosong, seolah- olah tak percaya kalau seorang 'anak bawang' macam Willy A Pong, membuat 'mereka malu' di depan pemujanya. Hendro Toda dkk tak mau mengangkat kepala untuk melihat mata-mata dingin dari tribun yang menatap tajam. Tertunduk lesu, mereka meninggalkan stadion.

Mereka hanya sempat melihat Willy Pong diarak mengelilingi lapangan. Willy dielu-elukan bagai Daud yang baru saja menumbangkan Goliat dengan tendangan indahnya. Peluk cium para pemain dan ofisial Persim melengkapi indahnya kemenangan 1-0 atas raksasa sepakbola NTT, PSN Ngada. Mereka seperti bermimpi. Bukan terbuai, tetapi itu bukti. Alangkah bahagianya mereka!

Kemenangan Persim atas PSN Ngada adalah pembenaran terhadap filosofi sepakbola yang sebenarnya. Sepakbola adalah permainan tim. Hasil pertandingan tidak bisa dihitung secara matematis. Kualitas individu, ambisi dan target bukan jaminan kemenangan. Pemenang baru dipastikan setelah wasit meniup usai 2x45 menit bermain.

Dalam sepakbola, seorang lelaki perkasa pun tidak dilarang untuk menangis. Ketika mata para pemain PSN sembab, orang-orang Ngada juga pasti ikut berduka. PSN Ngada adalah langganan juara. Itu karena mereka memiliki keutamaan dasar sepakbola yang sudah menjadi tradisi. Namun ketika mereka sudah tersingkir, apakah ini berarti ke depan pertandingan-pertandingan di Stadion Lebijaga sudah tidak menarik lagi?

Johni Lumba, Pelatih PS Kota Kupang (PSKK), seorang kandidat doktor olahraga pertama di NTT, tak mau berkomentar ketika ditanya, apakah PSN kalah lalu PSKK akan menjadi juara? Dia rupanya sadar dan tahu betul apa yang disebut euforia dan percaya diri yang berlebih-lebihan. Dia tahu, PSKK kini dikelilingi debutan- debutan yang tak perduli dengan kekalahan. Persematim Manggarai Timur dan Persiteng Sumba Tengah baru kali ini ikut. Persamba Manggarai Barat yang baru limakali berpartisipasi. Kalah bagi mereka adalah hal biasa. Kemenangan adalah sejarah.

Hari-hari ini sejarah baru sepakbola NTT sedang diukir. Ketika para raksasa seperti Persab Belu, Perse Ende, Persami Maumere lebih dahulu pulang kampung, itu pertanda bahwa sepakbola sudah bukan lagi milik sekelompok orang. Persim Manggarai tak salah ketika mendatangkan pelatih asal Argentina untuk memoles talenta-talenta muda mereka. Gaya sepakbola indah mereka mampu menciptakan sejarah yang tak pernah diramal para pengamat sepakbola.

Untuk itu, yang masih harus menjadi catatan evaluasi para pelatih adalah membangkitkan kebersamaan dalam tim. Pengabdian kepada tim inilah yang membuat sepakbola Manggarai menjadi indah, namun sangat kuat untuk menumbangkan PSN Ngada. Mereka bermain indah, tegas dan lugas. Tapi, tak ada kesan kekerasan militerisme dalam setiap gerak mereka. Malah mereka menampakkan suatu romantisme sepakbola yang indah. Itulah yang membuat PSN Ngada lebih dahulu keluar, padahal mereka masih ingin terus bergoyang.

Hari ini, Persiteng akan melawan Persamba Manggarai Barat, sedangkan PSKK melawan Persematim Manggarai Timur. Siapa pemenangnya? Mereka yang mengutamakan kebersamaan. Mereka yang tidak egois. Mereka yang juga sadar bahwa lawan bermain dengan sebelas orang, sehingga dia juga harus melawan dengan jumlah yang sama.

Kita memang masih harus terus mencari inteligensi, trik, teknik dan taktik baru yang mungkin tak ada sambungannya. Karena hanya dengan ini, kemenangan yang mustahil sekalipun pasti akan digapai. (*) 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved